Oleh : Muhamad Syakir Rizki Al Gifari

Setelah memahami pelajaran tentang segelas air dan danau yang luas, Salman tidak lagi memandang hidup dengan cara yang sama.

Hari itu ia mengerti bahwa masalah bukanlah garam yang masuk ke dalam hidupnya, melainkan ukuran wadah yang menampungnya. Kesedihan, kehilangan, kegagalan, dan pengkhianatan akan selalu ada. Namun rasa pahit yang ditimbulkannya bergantung pada luasnya hati, kedalaman pemahaman, dan kematangan jiwa seseorang.

Sejak hari itu Salman berhenti menghabiskan waktunya untuk mengeluh kepada keadaan. Ia mulai memperbesar “danau” dalam dirinya. Ia membaca buku-buku yang dahulu tidak pernah disentuhnya. Ia mempelajari bahasa asing, ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai keterampilan yang sebelumnya ia anggap tidak penting.

Suatu sore, ketika mereka kembali duduk di tepi danau yang sama, Salman bertanya kepada gurunya, “Guru, jika ketenangan ada di dalam hati, mengapa manusia harus belajar begitu banyak hal?”

Sang guru mengambil sebutir batu kecil lalu melemparkannya ke permukaan danau.

“Karena hati yang tenang adalah kompas, sedangkan ilmu adalah kendaraan. Kompas tanpa kendaraan membuatmu diam di tempat. Kendaraan tanpa kompas membuatmu tersesat.”

Salman mulai memperhatikan dunia dengan cara yang berbeda. Ia melihat petani menggunakan sensor cuaca dan aplikasi pertanian untuk meningkatkan hasil panen. Ia melihat dokter memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu menganalisis penyakit dengan lebih cepat. Ia melihat pelajar di desa terpencil belajar melalui internet dan kursus daring. Ia melihat pelaku UMKM menjual produknya ke seluruh Indonesia melalui marketplace. Ia juga melihat programmer dan penerjemah memperoleh pekerjaan global karena menguasai bahasa Inggris.

Melihat semua itu, Salman kembali bertanya kepada gurunya, “Apakah teknologi sedang mengubah manusia?”

Gurunya tersenyum.

“Tidak. Teknologi hanya memperbesar apa yang sudah ada dalam diri manusia. Pisau di tangan koki menghasilkan makanan, tetapi di tangan penjahat menghasilkan luka. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan nilainya adalah tangan yang menggunakannya dan hati yang mengarahkannya.”

Sejak saat itu Salman belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Awalnya tidak mudah. Ia sering salah mengucapkan kata-kata dalam bahasa asing, kesulitan memahami buku-buku yang rumit, bahkan menjadi bahan tertawaan beberapa orang.

Namun setiap kali ingin menyerah, ia teringat danau itu.

Ia teringat bahwa luasnya danau tidak tercipta dalam sehari. Danau menjadi luas karena menerima aliran demi aliran selama bertahun-tahun. Demikian pula ilmu. Demikian pula kedewasaan.

Tahun demi tahun berlalu. Salman akhirnya mampu membaca buku-buku yang dahulu terasa mustahil dipahami. Ia berbicara dengan orang-orang dari berbagai negeri dan memahami bahwa tantangan bukanlah penghalang, melainkan pintu yang menunggu untuk dibuka.

Ketika orang lain menyerah karena kesulitan, Salman mengingat danau dan segenggam garam itu. Masalah yang sama akan terasa berbeda ketika kapasitas diri diperbesar melalui ilmu, pengalaman, dan kedewasaan.

Pada akhirnya ia memahami satu pelajaran yang lebih dalam: hati yang dekat kepada Tuhan memberinya ketenangan, ilmu memberinya arah, bahasa membuka dunia, teknologi memperluas kemampuan, dan tantangan membentuk siapa dirinya sebenarnya.

Matahari mulai tenggelam di balik perbukitan. Danau di hadapannya kembali tenang seperti pertama kali ia melihatnya.

Salman tersenyum. Kini ia mengerti mengapa dahulu ia harus kehilangan dunia. Karena selama sibuk menggenggam dunia, ia tidak pernah memiliki ruang untuk mempelajarinya.

Sebab manusia yang paling kuat bukanlah yang mampu menguasai dunia, melainkan yang mampu menguasai dirinya sendiri ketika dunia terus berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *