Oleh : FAIZ HISAM

Sore itu, saya pulang kuliah tepat pukul empat. Langit tampak gelap dan mendung, tetapi saya tidak membawa jas hujan karena terlalu yakin pada firasat sendiri. Pikiran saya saat itu masih sederhana: “Hujan tidak akan turun.” Namun, beberapa menit kemudian, hujan justru turun dengan sangat deras.

Saya panik dan segera mencari tempat berteduh. Sambil menunggu, saya berniat mengirim pesan singkat kepada teman, “Saya kehujanan. Di mana tempat berteduh yang dekat?” Di tengah kepanikan itu, saya tiba-tiba teringat kaidah ejaan yang baru saja dipelajari di kampus: kata “di” yang menunjukkan keterangan tempat harus ditulis terpisah. Tanda koma dan titik juga tetap saya perhatikan agar susunan kalimatnya jelas dan tidak menimbulkan salah tafsir bagi teman saya.

Ketika saya sedang kebingungan, seorang bapak pengemudi ojek pangkalan mendekati saya. Beliau menawarkan jas hujannya dengan tutur kata yang halus, “Pakailah, Mas. Saya sudah basah terlebih dahulu.” Pilihan katanya sangat santun sehingga membuat hati saya menjadi tenang. Rasa kesal karena kehujanan yang hampir saya ucapkan pun seketika berganti menjadi, “Terima kasih banyak, Pak.”

Saya menerima jas hujan tersebut sambil menunggu hujan reda. Selama menunggu, saya memperhatikan bagaimana percakapan kami mengalir. Pada awalnya, kami membicarakan tentang hujan, lalu beralih membicarakan pekerjaan bapak tersebut. Setiap gagasan cerita ini mengalir dalam kesatuan paragraf yang padu. Secara visual, sengaja saya beri indentasi pada awal paragraf agar tulisan ini nantinya terlihat rapi dan sistematis.

Percakapan kami sore itu sesungguhnya membentuk sebuah wacana yang utuh. Ada unsur pembuka ketika bapak tersebut menghampiri, bagian isi ketika kami saling berdialog, dan penutup ketika hujan reda lalu saya berpamitan. Penalaran bapak tersebut juga sangat berkesan bagi saya. Beliau berkata, “Walaupun saya basah, saya ikhlas karena Mas masih muda dan harus segera sampai di rumah.”

Dari kejadian sederhana itu, saya menyadari bahwa menulis tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Ejaan harus tepat, kalimat harus bervariasi, paragraf harus padu, alur wacana harus runtut, dan penalaran harus logis. Hal ini sejalan dengan pendapat Prof. Henry Guntur Tarigan bahwa menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling terakhir dikuasai setelah menyimak, berbicara, dan membaca.

Sejak kejadian itu, saya selalu siap sedia membawa jas hujan di dalam jok motor. Begitu pula dengan tulisan-tulisan saya; kini menjadi lebih teratur, runtut, dan bermakna dibandingkan sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *