Oleh : Fikri Fadhilurrohman Langit sore diselimuti awan kelabu ketika gerimis mulai turun membasahi kota. Dari balik jendela sebuah kedai kopi, Nadira memandang tetesan air yang berlarian di kaca. Sesekali matanya beralih ke layar ponsel yang sejak tadi tetap sunyi, seolah menunggu kabar yang belum tentu datang. Hari itu genap satu tahun sejak ia mengenal Elang. Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja ketika sama-sama menjadi panitia sebuah kegiatan kampus. Elang dikenal mudah bergaul, sedangkan Nadira lebih senang menjadi pendengar daripada banyak berbicara. Berawal dari urusan kepanitiaan, mereka perlahan terbiasa saling bertukar cerita, berbagi keluh kesah, hingga saling memberi semangat di sela kesibukan kuliah. Seiring berjalannya waktu, Elang menjadi sosok yang selalu hadir dalam berbagai fase kehidupan Nadira. Ketika Nadira kehilangan neneknya, Elang datang membawa kata-kata yang menenangkan. Saat Nadira merasa gagal karena hasil ujian yang tidak sesuai harapan, Elang pula yang mengingatkannya bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses. Tanpa pernah direncanakan, rasa nyaman itu berubah menjadi perasaan yang lebih dalam. Namun, kehidupan tidak selalu memberi ruang bagi semua harapan. Menjelang kelulusan, kesibukan mereka semakin berbeda. Elang bekerja paruh waktu demi membantu perekonomian keluarganya, sementara Nadira harus menyelesaikan skripsi dan mempersiapkan langkah setelah lulus. Obrolan panjang yang dahulu menjadi kebiasaan perlahan berganti menjadi pesan-pesan singkat yang terkadang baru dibalas keesokan harinya. Sore itu, ponsel Nadira akhirnya bergetar. “Maaf baru sempat menghubungi. Kamu masih di kedai?” Nadira membalas singkat. “Masih.” Beberapa menit kemudian, Elang datang dengan ujung jaket yang sedikit basah. Wajahnya tampak letih, tetapi senyum yang menghiasi wajahnya tidak pernah berubah. “Terima kasih sudah menunggu,” katanya sambil duduk di hadapan Nadira. “Tidak apa-apa,” jawab Nadira pelan. Suasana kembali hening. Gerimis di luar terdengar lebih jelas daripada percakapan mereka. Keduanya sama-sama menyimpan banyak kata yang sulit diungkapkan. “Aku mendapat pekerjaan di luar kota,” ucap Elang akhirnya. Nadira menatapnya. “Aku berangkat bulan depan.” Kalimat itu terasa sederhana, tetapi cukup membuat hati Nadira bergetar. Ada begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan. Ia ingin mengatakan bahwa kehadiran Elang begitu berarti baginya. Ia ingin meminta Elang untuk tetap tinggal. Namun, ia sadar bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang harus diperjuangkan. Kesempatan yang diterima Elang bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. “Aku ikut bahagia,” ujar Nadira sambil tersenyum, meskipun senyum itu menyembunyikan rasa yang tidak mampu ia jelaskan. Elang menatapnya beberapa saat. “Kamu selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku.” Kalimat itu menghadirkan kehangatan sekaligus kesedihan yang sulit diterjemahkan. Gerimis berhenti ketika mereka keluar dari kedai. Jalanan masih basah dan lampu-lampu kota memantulkan cahaya di atas genangan air. Mereka berhenti di tepi trotoar. “Semoga semua impianmu tercapai,” kata Elang. “Kamu juga. Jaga dirimu baik-baik.” Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada janji untuk saling menunggu. Yang tersisa hanyalah doa dan harapan agar masing-masing mampu melangkah menuju masa depan yang telah dipilih. Sebulan kemudian, Elang benar-benar meninggalkan kota itu. Sesekali mereka masih saling bertukar kabar, tetapi waktu perlahan mengubah kedekatan menjadi sekadar kenangan yang disimpan dengan baik. Bertahun-tahun kemudian, ketika hujan tipis kembali turun pada suatu sore, Nadira tersenyum tanpa lagi merasa kehilangan. Ia menyadari bahwa tidak semua perasaan harus berakhir dengan memiliki. Ada pertemuan yang memang ditakdirkan hanya untuk mengajarkan arti ketulusan, keikhlasan, dan keberanian melepaskan. Sebab, terkadang cinta yang paling dewasa bukanlah tentang mempertahankan, melainkan merelakan seseorang melangkah menuju masa depan terbaiknya, meskipun jalan itu tidak lagi berjalan berdampingan. Post navigation Jendela Bahasa di Era Teknologi Senandung Dini Hari