Oleh : Satrio Pambudi Sadewo Sore itu langit tampak mendung. Awan kelabu menggantung di atas taman kota yang biasanya ramai oleh anak-anak dan para pedagang kaki lima. Di salah satu sudut taman terdapat sebuah bangku kayu tua yang catnya mulai mengelupas. Meski terlihat usang, bangku itu selalu menjadi tempat favorit seorang mahasiswa bernama Arga. Hampir setiap minggu Arga datang ke taman tersebut. Bukan untuk berolahraga atau sekadar berjalan-jalan, melainkan untuk mencari ketenangan. Kehidupan kuliah yang padat membuatnya sering merasa lelah. Tugas yang menumpuk, presentasi yang harus dipersiapkan, serta tuntutan untuk memperoleh nilai yang baik membuat pikirannya dipenuhi berbagai kekhawatiran. Hari itu Arga kembali duduk di bangku tua tersebut. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar tugas yang belum selesai. Namun, baru beberapa menit membaca, pikirannya sudah terasa penuh. Dengan kesal ia menutup bukunya dan menatap ke arah kolam kecil di tengah taman. Saat itulah seorang pria tua menghampirinya. Rambutnya sudah memutih dan langkahnya terlihat pelan. Pria itu membawa sapu lidi dan mengenakan seragam petugas kebersihan taman. “Boleh saya duduk di sini?” tanyanya dengan ramah. “Tentu, Pak,” jawab Arga sambil menggeser duduknya. Pria tua itu duduk di sebelah Arga. Beberapa saat mereka hanya diam menikmati suasana taman. Angin berembus perlahan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning. “Kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat,” kata pria itu. Arga tersenyum kecil. “Kelihatan ya, Pak?” “Sedikit,” jawabnya sambil tertawa. Tanpa sadar Arga mulai bercerita. Ia menceritakan kesulitannya mengikuti perkuliahan, rasa takut gagal, dan kekhawatirannya terhadap masa depan. Arga juga bercerita tentang masa-masa awal kuliahnya. Saat pertama kali diterima di kampus impiannya, ia merasa sangat bangga. Orang tuanya ikut bahagia karena Arga menjadi anggota keluarga pertama yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, kebanggaan itu perlahan berubah menjadi tekanan ketika perkuliahan dimulai. Di semester pertama, Arga sering merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Banyak mahasiswa di kelasnya yang tampak lebih percaya diri saat presentasi. Sebagian lainnya memiliki kemampuan akademik yang sangat baik. Setiap kali nilai tugas diumumkan, Arga selalu membandingkan dirinya dengan mereka. Suatu ketika, ia pernah mendapatkan nilai yang jauh di bawah harapannya. Padahal ia telah menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengerjakan tugas tersebut. Malam itu ia pulang dengan perasaan kecewa. Ia bahkan sempat berpikir bahwa dirinya tidak cukup pintar untuk berada di kampus itu. Perasaan tersebut terus berulang selama beberapa bulan. Setiap melihat keberhasilan orang lain, Arga justru semakin meragukan kemampuannya sendiri. Ia mulai kehilangan motivasi belajar dan lebih sering menyendiri. Tugas yang biasanya bisa diselesaikan dengan cepat menjadi terasa berat karena pikirannya dipenuhi rasa takut gagal. “Pernah suatu malam saya sampai tidak bisa tidur, Pak,” kata Arga pelan. “Saya terus memikirkan masa depan. Takut kalau nanti tidak bisa lulus tepat waktu, tidak mendapatkan pekerjaan yang baik, atau mengecewakan orang tua.” Pria tua itu mengangguk pelan seolah memahami perasaan tersebut. “Saya tahu semua orang pasti punya masalah,” lanjut Arga. “Tapi kadang saya merasa masalah saya terlalu banyak. Semakin saya pikirkan, semakin saya tidak tahu harus mulai dari mana.” Ia menatap permukaan kolam yang beriak terkena angin. Air yang tadinya tenang berubah menjadi gelombang-gelombang kecil. “Saya hanya ingin menjalani kuliah dengan baik, Pak. Tapi kadang rasanya sulit sekali.” Untuk beberapa saat suasana kembali hening. Hanya terdengar suara dedaunan yang bergesekan dan tawa anak-anak yang bermain di kejauhan. Entah mengapa, menceritakan semua kegelisahannya kepada orang yang baru ditemuinya membuat Arga merasa lebih lega. Beban yang selama ini ia simpan sendiri perlahan terasa berkurang. Pria tua itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah Arga selesai berbicara, ia menunjuk sebuah pohon besar yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Kamu lihat pohon itu?” tanyanya. Arga mengangguk. “Dulu pohon itu hanya bibit kecil. Saat pertama ditanam, batangnya bahkan lebih kecil dari gagang sapu yang saya pegang sekarang. Banyak orang mengira pohon itu tidak akan tumbuh karena sering diterpa angin dan hujan. Namun setiap hari ia terus bertahan sedikit demi sedikit sampai menjadi sebesar sekarang.” Arga memperhatikan pohon tersebut. Batangnya kokoh dan dahannya menjulang tinggi. “Kadang kita terlalu sibuk memikirkan seberapa jauh tujuan yang harus dicapai,” lanjut pria itu. “Padahal yang lebih penting adalah terus bertumbuh setiap hari, walaupun hanya sedikit.” Kata-kata itu membuat Arga terdiam. “Pak, apakah Bapak pernah merasa gagal?” tanya Arga. “Tentu saja pernah,” jawab pria tua itu sambil tersenyum. “Bahkan berkali-kali.” Pria tua itu kemudian mulai menceritakan kisah hidupnya. Ketika masih muda, ia bercita-cita menjadi seorang guru. Ia senang belajar dan bercita-cita mengajarkan ilmu kepada banyak orang. Namun keadaan ekonomi keluarganya membuat impian tersebut sulit diwujudkan. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Ibunya harus bekerja seorang diri untuk menghidupi keluarga. Setelah lulus sekolah, ia memilih bekerja agar adik-adiknya tetap bisa melanjutkan pendidikan. “Awalnya saya marah kepada keadaan,” katanya. “Saya iri melihat teman-teman yang bisa mengejar cita-cita mereka. Tapi lama-kelamaan saya sadar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.” “Lalu bagaimana Bapak bisa menerima semua itu?” tanya Arga. “Saya belajar untuk tetap melangkah. Walaupun impian saya berubah, bukan berarti hidup saya berhenti.” Pria tua itu mengambil sehelai daun kering yang jatuh di dekat kakinya. “Daun ini jatuh bukan karena lemah. Kadang ada hal-hal yang memang harus kita lepaskan agar bisa terus tumbuh.” Arga kembali terdiam. Ia merasa kata-kata itu seakan ditujukan langsung kepadanya. Mereka terus berbincang hingga matahari mulai turun ke ufuk barat. Cahaya keemasan menyinari taman dan membuat suasana terasa hangat. Sebelum berdiri, pria tua itu menepuk bahu Arga. “Ingat satu hal. Jangan terlalu sibuk memikirkan puncak gunung sampai lupa menikmati langkah yang sedang kamu jalani. Tidak apa-apa berjalan pelan, selama kamu tidak berhenti.” Tak lama kemudian rintik hujan mulai turun. Pria tua itu berdiri dan mengambil sapunya. “Saya harus kembali bekerja,” katanya. “Terima kasih, Pak. Saya merasa jauh lebih tenang sekarang.” Pria tua itu tersenyum. “Tidak perlu berterima kasih. Saya hanya kebetulan lewat.” Mereka pun berpisah. Setelah pertemuan itu, Arga mulai mencoba mengubah cara hidupnya. Ia membuat jadwal belajar yang lebih teratur dan berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Setiap hari ia fokus menyelesaikan tugas-tugas kecil terlebih dahulu sebelum memikirkan hal yang lebih besar. Perubahan itu tidak langsung memberikan hasil yang luar biasa. Namun sedikit demi sedikit ia mulai merasakan kemajuan. Nilai tugasnya membaik. Ia juga mulai berani bertanya kepada dosen ketika mengalami kesulitan. Beberapa bulan kemudian, Arga mengikuti lomba karya tulis tingkat kampus. Ia menghabiskan banyak waktu untuk melakukan riset dan menyusun laporannya. Meski sudah berusaha keras, ia tidak berhasil menjadi juara. Saat melihat hasil pengumuman, ia sempat merasa kecewa. Namun kali ini perasaannya berbeda. Ia tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri. Ia justru bangga karena telah berani mencoba dan menyelesaikan sesuatu sampai akhir. Pengalaman itu membuat Arga semakin memahami makna dari nasihat pria tua di taman. Keberhasilan bukan hanya tentang menang, tetapi juga tentang keberanian untuk terus melangkah meskipun hasilnya belum sesuai harapan. Beberapa bulan kemudian, hasil semester diumumkan. Arga berhasil memperoleh nilai yang jauh lebih baik dibanding semester sebelumnya. Orang tuanya ikut bangga melihat perubahan tersebut. Suatu sore, ia memutuskan kembali ke taman tempat ia pernah bertemu pria tua itu. Ia duduk di bangku yang sama dan memandang pohon besar yang dulu ditunjukkan kepadanya. Namun kali ini ia tidak menemukan sosok pria tua tersebut. Ketika bertanya kepada petugas lain, Arga mendapat kabar bahwa pria itu telah pensiun beberapa waktu sebelumnya. Meskipun hanya bertemu satu kali, Arga merasa telah mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Nasihat sederhana yang diberikan oleh pria tua itu mengubah cara pandangnya terhadap kegagalan, kesuksesan, dan perjalanan hidup. Ia menatap pohon besar yang berdiri kokoh di dekat bangku. Pohon itu masih terus tumbuh sedikit demi sedikit setiap hari tanpa terburu-buru. Senyum tipis muncul di wajah Arga. Kini ia memahami bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, melainkan tentang siapa yang tetap bertahan dan terus melangkah meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Di bawah langit sore yang mulai cerah, Arga duduk dengan perasaan tenang. Bangku tua itu akan selalu menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan sabar, tekun, dan penuh harapan. Post navigation Lelaki yang kehilangan Dunia PERJUANGANKU UNTUK MERANTAU