Oleh : Kevin Putra Setiawan

Sinar matahari pagi menyinari sebuah bangunan mewah. Terpampang papan bertuliskan “Kosan 48” pada pintu depan kosan. Di dalamnya, terlihat seorang perempuan sedang mengaduk pelan secangkir teh. Perempuan itu bernama Aurora Nadhifa, sosok yang dikenal penyabar, mudah bergaul, dan ramah di lingkungan kosannya.

Dengan langkah tenang, ia berjalan menghampiri salah satu temannya yang berada di ruang tengah. Di sana, tampak seseorang yang sedang fokus pada layar laptop dengan mata panda.

“Belum tidur dari semalam lagi, Kak?” tanya Aurora kepada orang itu sembari meletakkan cangkir miliknya di atas meja kaca, kemudian menatap layar televisi yang sedari tadi menyala.

“Belum nih ra. Tugas semester atas benar-benar ngeselin.” jawab orang tersebut. Ia dikenal sebagai kakak tertua di kosannya. Indah Nayarra namanya, seseorang yang tidak banyak bicara, selalu tenang, dan sedikit galak.

“Oh iya, Si Kiran belum bangun kak?” tanya Aurora lagi

“Belum. Daritadi ngga ada tanda-tanda dia udah bangun sih Ra.” jawab orang itu lagi. Beberapa saat kemudian, salah satu pintu di ruangan tersebut terbuka, menunjukkan seseorang dengan raut muka yang melas dan rambutnya yang berantakan.

“Selamat pagi Kak Indah, dan Rora!” sapa orang tersebut sambil meregangkan tangannya ke atas. Orang tersebut bernama Kiran Athaya, orang yang selalu ceria dan menjadi pencair suasana di lingkungan kos nya. Sampai dimana Ibu Suri sebagai Ibu Kos sudah lelah dengan tingkahnya.

“Pagi Kiran Athaya, tumben ngga ngereog.” balas Aurora dengan senyum simpul khas dirinya.

“Iya nih Ra. Aku masih kepikiran sama apa yang terjadi semalam” jawab Kiran sambil berjalan pelan ke arah sofa dan mengambil teh milik Aurora lalu meneguknya.

“Emang semalem ada apa Ran?” tanya Aurora penasaran.

“Jadi, semalam tuh Aku denger di luar kamar ada yang nyanyi pelan atau apa lah itu namanya. Padahal itu masih jam 2 pagi Ra. Sumpah aku merinding semalaman sampe ngga bisa tidur.” jelas Kiran sambil menunjukkan tangannya yang masih merinding.

“Hah serius Ran? Tapi kenapa ngga kamu cek dulu semalam?” tanya Aurora dengan ekspresi tidak percaya dan sedikit penasaran.

“Hehe. Keburu takut duluan Aku Ra. Makanya ngga sempet Aku cek.” Jawab Kiran sambil tersenyum lebar, memperlihatkan gigi nya yang bersih dan putih.

“Astaga Kiran.” jawab Aurora sambil jemarinya memijat pelipis yang mendadak terasa pening, menatap temannya dengan ekspresi heran.

“Eh tapi, dari semalam kan Aku di ruang tengah dan ngga mendengar apapun Ran. Kamu halusinasi kali Ran.” kata Indah yang sedang menutup laptopnya dan ikut dalam percakapan.

“Beneran Kak. Aku berani sumpah kalo semalam aku ngga mimpi atau halusinasi. Jelas-jelas Aku bangun dan denger itu.” jelas Kiran cepat sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf V, dengan harapan temannya percaya.

Di tengah perdebatan tentang percaya atau tidaknya Aurora dan Indah dengan cerita Kiran. Tak lama kemudian, salah satu pintu di dalam kos nya terbuka dan memperlihatkan mahasiswi yang memakai jaket abu-abu, rambutnya diikat kuncir kuda, serta kacamata tipisnya. Ia berjalan perlahan ke arah pintu keluar dengan tas yang sedari tadi di pundaknya dan mengabaikan teman kosannya yang sedang berdebat.

Aurora yang menyadari keberadaan orang tersebut pun langsung menyapanya, “Hei Luna. Mau pergi ke kampus ya?”

Nama yang dipanggil pun berhenti sejenak dan menoleh ke arah Aurora lalu menjawab hanya dengan anggukan kepala. Setelah itu, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka.

Aurora hanya membalas senyuman walaupun tidak dilihat oleh orang tersebut lalu lanjut mendengarkan temannya yang sedang berdebat. Ia memang terkenal sangat pendiam diantara penghuni kos lainnya. Luna Rahasya namanya, dikenal sangat pendiam bahkan jarang berinteraksi dengan penghuni kos lainnya dan selalu diam di kamarnya, entah apa yang dia lakukan disana.

Kembali ke keadaan ruang tengah. Perdebatan diakhiri dengan Indah yang memutuskan untuk pergi tidur karena sudah sangat lelah menghadapi tugas-tugasnya dan yang pasti berdebat dengan Kiran. Indah beranjak dari tempat duduknya lalu langsung pergi ke dalam kamarnya.

Di ruang tengah, sekarang hanya ada Aurora dan Kiran. Setelah menatap kepergian Indah ke kamarnya, ia menoleh Aurora.

“Kamu percaya sama Aku kan Ra?” tanya Kiran dengan muka yang sudah murung karena tidak ada yang percaya dengan ceritanya.

“Iya Aku percaya kok Ran. Nanti kita obrolin lagi ya. Aku mau pergi mandi dulu, soalnya dikit lagi Aku ada kelas” balas Aurora dengan senyuman khasnya lagi untuk meyakinkan Kiran bahwa ia percaya tentang ceritanya. Lalu beranjak pergi menuju kamar mandi.

Kiran yang sekarang sisa sendiri di ruang tengah hanya mendengus kesal karena ia masih belum yakin dengan jawaban Aurora yang nampaknya tidak serius.

Sore hari telah tiba, para penghuni “Kosan 48” terlihat sedang sibuk dengan kegiatan nya masing masing. Kiran yang sedang asik menonton televisi di ruang tengah hingga Aurora yang sedang membuat teh di dapur yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah. Tak lama kemudian, Aurora mengawali percakapan dengan berkata, “Oh iya soal tadi, soal senandung yang kamu denger semalem. Aku kepikiran terus tadi pas mandi.” lanjut Aurora sambil menyeduh tehnya, lalu duduk di sofa tidak jauh dari Kiran.

“Tau kan Ra! Makanya daritadi Aku coba cari-cari di internet, jangan-jangan kosan ini emang ada penghuni lainnya.” jawab Kiran dengan mata yang masih tertuju pada layar ponselnya, mencari-cari artikel tentang cerita seram seputar kos-kosan tua.

“Astaga Kiran, jangan macem-macem. Nanti malah kamu yang nambah parno sendiri.” balas Aurora sambil terkekik kecil melihat tingkah temannya itu.

Tidak lama setelah itu, Indah keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih sedikit berantakan, tanda baru saja bangun dari tidur siangnya. Ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum.

“Masih ngomongin soal semalem?” tanya Indah datar sambil menuang air ke dalam gelasnya.

“Iya kak! Kamu kan tadi pagi nggak percaya. Makanya Aku mau buktiin kalo Aku nggak bohong.” jawab Kiran dengan nada sedikit kesal.

Indah hanya menghela napas pelan, lalu duduk di kursi makan sambil menyeruput air minumnya. “Yaudah, kalo emang beneran ada suara nyanyi-nyanyi semalem, malam ini kita coba dengerin bareng. Biar jelas.” usul Indah dengan nada yang masih datar seperti biasa.

Mata Kiran langsung berbinar mendengar usulan tersebut. “Nah gitu dong, baru yang namanya temen seperjuangan. Aku setuju!” serunya sambil bertepuk tangan kecil.

Aurora yang sedari tadi diam mendengarkan, ikut menimpali. “Ya boleh sih, tapi jangan sampe kita malah ganggu yang lain ya. Apalagi kalo sampe Ibu Suri kebangun, bisa kena omel kita.”

Percakapan tersebut terhenti ketika pintu depan kosan terbuka, menampilkan sosok Ibu Suri yang baru saja pulang dari pasar dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya.

“Eh, pada ngumpul di dapur. Lagi ngomongin apa nih anak-anak Ibu?” tanya Ibu Suri sambil meletakkan kantong belanjaannya di atas meja dapur.

“Ibu! Kebetulan nih, Ibu pernah denger ada suara nyanyi-nyanyi pelan jam 2 pagi gitu ngga, di sekitar sini?” tanya Kiran cepat-cepat, berharap mendapat dukungan dari Ibu Suri.

Ibu Suri terdiam sejenak sambil mengingat-ingat, kemudian menjawab, “Hmm, kalo soal itu Ibu kurang tahu ya Kiran. Tapi kosan ini emang udah lama, dari Ibu masih muda dulu. Mungkin aja ada yang denger sesuatu, namanya juga bangunan tua.” jawab Ibu Suri sambil mulai merapikan belanjaannya, tanpa bermaksud menakuti, hanya menjawab sejujurnya.

Mendengar jawaban itu, wajah Kiran berubah pucat. “Tuh kan bener ada yang aneh!” serunya dengan suara agak bergetar.

“Udah, udah. Jangan dibawa-bawa ketakutan begitu Ran. Mendingan nanti malam kita buktiin aja langsung, daripada nebak-nebak nggak jelas.” Aurora menengahi dengan nada menenangkan, sambil menepuk pundak Kiran pelan.

Indah yang sudah selesai minum air pun ikut menambahkan, “Iya, lagian belum tentu juga itu hal aneh-aneh. Bisa aja ada penjelasan lain yang lebih logis.”

Ibu Suri yang mendengar rencana anak-anak kosnya itu hanya tertawa kecil. “Ya udah, kalo emang niat mau dengerin malam-malam, jangan sampe berisik ya. Ibu mau istirahat lebih awal soalnya capek dari pasar.” pesan Ibu Suri sambil berjalan menuju kamarnya, meninggalkan tiga sahabat itu di dapur.

Malam pun datang. Satu per satu lampu di ruang tengah kosan dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur kecil di sudut ruangan. Aurora, Kiran, dan Indah sudah bersiap di ruang tengah dengan selimut tipis masing-masing, menunggu jam dua pagi tiba sesuai cerita Kiran.

“Ngantuk juga ya nungguin gini.” gerutu Kiran sambil menguap lebar, matanya mulai berat menahan kantuk.

“Makanya jangan banyak ngomong, nanti malah ketiduran beneran.” sahut Indah singkat sambil bersandar di sofa, mencoba tetap terjaga.

Aurora hanya tersenyum melihat interaksi dua temannya itu, lalu sesekali melirik jam dinding yang perlahan mendekati pukul dua pagi. Suasana kosan begitu sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dari luar dan detak jam dinding yang menggantung di ruang tengah.

Tepat pukul dua pagi, telinga Kiran yang sedari tadi siaga langsung mendengar sesuatu. “Eh! Denger nggak? Itu suaranya muncul lagi dia!” bisik Kiran dengan mata melebar, langsung menyenggol lengan Aurora dan Indah yang sudah hampir tertidur.

Ketiganya terdiam, menajamkan pendengaran. Benar saja, dari arah lorong kamar terdengar suara senandung pelan seperti alunan sebuah lagu yang tidak jelas liriknya, mengalun perlahan di tengah kesunyian malam.

“Itu… itu beneran ada Ra.” ucap Kiran dengan suara bergetar, menggenggam erat lengan Aurora yang duduk di sebelahnya.

Indah yang awalnya skeptis kini ikut terdiam, matanya menajam ke arah lorong kamar tempat suara itu berasal. “Coba kita samperin pelan-pelan. Daripada cuma diem-diem ketakutan disini.” usul Indah sambil perlahan bangkit dari sofanya, berusaha bersikap tenang meski raut wajahnya menunjukkan sedikit kewaspadaan.

Dengan langkah hati-hati, ketiganya berjalan menyusuri lorong yang gelap menuju sumber suara tersebut. Semakin mendekat, suara senandung itu semakin jelas terdengar, dan ternyata berasal dari salah satu kamar di ujung lorong.

“Ini… kamar Luna kan?” bisik Aurora sambil menatap pintu kamar yang sedikit terbuka di hadapan mereka.

Kiran yang masih merinding hanya mengangguk cepat, sementara Indah dengan hati-hati mendorong pintu kamar tersebut perlahan, mengintip ke dalam.

Di dalam kamar dengan pencahayaan redup, terlihat Luna sedang tertidur di meja belajarnya, dikelilingi oleh tumpukan buku dan kertas catatan yang berserakan. Lampu meja kecil masih menyala, menyinari wajah Luna yang tertidur dengan posisi kepala bersandar pada lengannya sendiri. Dari bibirnya, terdengar gumaman lirih yang tidak jelas, seperti sedang menyanyikan sesuatu dalam tidurnya.

Ketiganya saling berpandangan dengan ekspresi campur aduk antara kaget dan geli melihat kenyataan di hadapan mereka.

“Jadi… selama ini yang bikin Kiran merinding semalaman itu Luna yang ngigau?” tanya Indah pelan, menahan tawa yang hampir meledak.

Aurora menutup mulutnya sendiri menahan tawa, lalu berbisik, “Kayaknya iya deh kak. Luna pasti kecapean banget sampe ketiduran di meja belajar sambil ngigau gitu.”

Kiran yang sejak tadi merasa jadi korban ketakutan semalaman langsung melemas, antara malu dan lega. “Yaaah, jadi selama ini Aku takut sama Luna yang ngigau doang? Pantesan suaranya kedengeran kayak nyanyi, soalnya emang Luna ngomong sambil ngantuk.” gerutunya dengan nada lemas, namun raut wajahnya perlahan berubah jadi geli sendiri mengingat ketakutannya semalam.

Indah yang sudah tidak bisa menahan tawanya lagi akhirnya tertawa kecil, sesuatu yang jarang terlihat dari sosoknya yang biasanya tenang dan sedikit galak. “Beneran deh Kiran, lain kali jangan langsung percaya sama hal-hal serem dulu. Pikirin dulu kemungkinan yang logis.”

“Tapi kalian juga ikutan parno kan tadi pas jalan kesini!” balas Kiran membela diri, membuat Aurora dan Indah saling melempar pandangan, mengakui bahwa mereka pun sebenarnya sedikit merinding sebelum tahu kebenarannya.

Aurora kemudian melangkah masuk perlahan ke kamar Luna, mendekati sahabatnya yang masih tertidur dengan posisi tidak nyaman itu. Ia menepuk pundak Luna dengan lembut. “Luna, bangun dulu. Tidur di meja gini nanti pegal badannya.”

Luna yang merasakan tepukan di pundaknya perlahan membuka mata, mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar tersadar dari tidurnya. Ia menatap sekeliling dengan tatapan bingung, mendapati tiga sahabat kosannya berdiri mengelilingi meja belajarnya di tengah malam.

“Kalian… kenapa di kamar Aku?” tanya Luna dengan suara pelan dan masih sedikit serak, raut wajahnya menunjukkan kepolosan yang khas darinya.

“Luna, kamu tau nggak semalem sama barusan kamu ngigau sambil nyanyi-nyanyi gitu?” tanya Kiran yang sudah kembali ceria seperti biasa, seolah lupa dengan rasa takutnya semalam.

Mata Luna melebar mendengar pertanyaan itu, wajahnya perlahan merona malu. “Aku… ngigau? Serius?” tanyanya dengan nada tidak percaya, jelas tidak menyadari kebiasaannya sendiri.

“Iya Luna, dan itu yang bikin Kiran ketakutan setengah mati semalem sampe nggak bisa tidur.” jelas Aurora sambil tersenyum geli, ikut menjelaskan situasinya kepada Luna yang masih kebingungan.

Luna menundukkan kepalanya, merasa tidak enak hati. “Maaf ya, Aku nggak sadar kalo ternyata kedengeran sampe luar. Soalnya beberapa hari ini Aku ngerjain tugas akhir terus, jadi keseringan ketiduran di meja belajar.” jelasnya dengan suara lirih, jemarinya memainkan ujung selimut yang tersampir di kursi.

Mendengar penjelasan itu, raut wajah Indah yang tadinya geli berubah menjadi sedikit khawatir. “Luna, kalo kecapean gini terus, kesehatan kamu bisa kena efeknya lho. Jangan paksa diri kamu buat ngerjain tugasnya sampe kayak gini.”

Aurora pun ikut menambahkan dengan nada lembut, “Iya, lain kali kalo ngerjain tugas malem-malem, istirahat dulu sebentar kalo udah ngerasa capek. Jangan sampe ketiduran di kursi kayak gini terus, nggak baik buat badan kamu.”

Luna mengangguk pelan, menerima nasihat dari kedua sahabatnya itu. “Iya, makasih ya. Aku usahain nanti lebih jaga waktu istirahat.” jawabnya singkat namun tulus, sesuai dengan sifatnya yang tidak banyak bicara.

Kiran yang sejak tadi memperhatikan akhirnya angkat bicara dengan nada bercanda, “Tapi serius deh Luna, lain kali kalo ngigau, ngigau yang jelas dong liriknya. Biar Aku bisa request lagu apa gitu.” candanya yang langsung disambut tawa kecil dari Aurora dan senyum tipis dari Indah.

Luna yang mendengar candaan itu hanya tersipu malu, namun sudut bibirnya tertarik membentuk senyum kecil, sesuatu yang jarang terlihat dari sosoknya yang biasanya datar dan pendiam.

“Yaudah, daripada disini terus, mendingan kita semua balik tidur. Udah jam segini, besok masih ada kegiatan masing-masing.” ajak Indah sambil melangkah keluar dari kamar Luna, diikuti oleh yang lainnya.

Sebelum benar-benar menutup pintu kamarnya, Luna menyempatkan diri berkata pelan kepada ketiga sahabatnya itu. “Makasih ya, udah mau samperin dan khawatir sama Aku.”

Aurora menoleh dengan senyum hangat khasnya. “Sama-sama Luna. Namanya juga sahabat kos, harus saling jaga satu sama lain kan.”

Malam itu pun berakhir dengan tawa kecil dan kelegaan di antara mereka. Misteri senandung dini hari yang sempat membuat Kiran merinding ketakutan ternyata hanyalah igauan Luna yang terlalu lelah karena tugas akhirnya. Esok paginya, cerita tentang kejadian semalam menjadi bahan candaan hangat di antara para penghuni “Kosan 48”, bahkan Ibu Suri yang mendengar cerita itu dari Aurora hanya bisa tertawa geli sambil menggelengkan kepala.

“Makanya, anak-anak Ibu ini harus belajar untuk nggak gampang percaya sama hal-hal yang belum jelas kebenarannya.” ucap Ibu Suri sembari menyiapkan sarapan untuk para penghuni kosannya, menutup pagi itu dengan tawa hangat yang mengisi seluruh ruang tengah “Kosan 48”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *