Oleh : Faizal Zulmi, Vicky safrudin pratama

Rizky adalah siswa kelas XII di sebuah SMA negeri. Seperti kebanyakan pelajar lainnya, ia sering merasa kesulitan ketika mendapat tugas yang membutuhkan banyak referensi. Salah satu pelajaran yang cukup membuatnya pusing adalah Bahasa Indonesia, terutama saat harus membuat karya tulis.

Suatu pagi, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas membuat artikel yang berkaitan dengan teknologi dan pembelajaran. Mendengar tugas itu, beberapa teman Rizky langsung mengeluh.

“Waduh, cari bahannya dari mana lagi?” gumam Rizky sambil melihat lembar tugas yang baru dibagikan.

Saat jam istirahat, Rizky bercerita kepada sahabatnya, Riko.

“Aku bingung. Di perpustakaan bukunya sedikit, sedangkan tugasnya harus pakai referensi yang jelas,” kata Rizky.

Riko lalu menunjukkan ponselnya.

“Coba cari dari internet. Banyak artikel pendidikan yang bisa dijadikan referensi. Yang penting jangan langsung disalin, pahami dulu isinya.”

Saran itu membuat Rizky tertarik. Sepulang sekolah, ia mencoba mencari informasi melalui internet menggunakan ponsel miliknya. Ia membaca beberapa artikel pendidikan, menonton video penjelasan, dan mencatat poin-poin penting yang berkaitan dengan tugasnya.

Awalnya tidak mudah. Sinyal internet di rumah Rizky sering hilang muncul. Kadang-kadang ia harus keluar rumah dan duduk di teras agar jaringan lebih stabil. Belum lagi godaan membuka media sosial ketika sedang mencari referensi.

Suatu malam, Rizky menyadari bahwa waktu belajarnya banyak terbuang karena terlalu sering berpindah dari aplikasi belajar ke media sosial. Sejak saat itu, ia mulai mengatur waktu penggunaan ponselnya. Ia menentukan jam khusus untuk belajar dan menonaktifkan notifikasi yang tidak penting.

Saat mengerjakan tugas, Rizky menggunakan internet untuk mencari artikel dari situs pendidikan dan berita terpercaya. Ia juga memanfaatkan Google Docs untuk menulis tugas serta kamus digital untuk mencari arti kata yang belum dipahami. Ketika guru memberikan materi melalui Google Classroom, Rizky mengunduh materi tersebut dan mempelajarinya kembali di rumah. Ia bahkan berdiskusi dengan teman-temannya melalui grup WhatsApp untuk saling bertukar informasi. Berkat bantuan teknologi tersebut, Rizky dapat memahami materi dengan lebih baik dan menyelesaikan tugas tepat waktu.

Perlahan-lahan tugasnya mulai selesai. Ia juga merasa lebih mudah memahami materi karena dapat mencari arti kata, membaca contoh karya tulis, dan mempelajari cara penulisan yang baik melalui berbagai sumber digital.

Seminggu kemudian, tugas dikumpulkan. Rizky tidak terlalu berharap banyak. Ia hanya merasa puas karena berhasil menyelesaikannya dengan usaha sendiri.

Saat pembagian nilai, guru Bahasa Indonesia memanggil namanya.

“Rizky, tulisanmu bagus. Referensinya jelas dan pembahasannya runtut. Terus pertahankan cara belajarmu,” kata sang guru.

Rizky tersenyum lega. Baginya, nilai yang diperoleh bukanlah hal yang paling penting. Ia senang karena berhasil memanfaatkan teknologi dengan cara yang benar.

Sejak saat itu, Rizky semakin yakin bahwa teknologi dapat menjadi sahabat dalam belajar. Namun, ia juga memahami bahwa teknologi hanya alat bantu. Keberhasilan tetap bergantung pada kemauan, kedisiplinan, dan usaha dari diri sendiri.

Pesan Moral

Teknologi dapat membantu proses belajar menjadi lebih mudah dan efektif. Namun, manfaatnya hanya dapat dirasakan apabila digunakan secara bijak, disertai disiplin dan kemauan untuk terus belajar. Teknologi bukan pengganti usaha, melainkan sahabat yang dapat membantu pelajar meraih cita-cita dan menghadapi tantangan di era digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *