Oleh: Dzikrul Alam Program Studi Teknik Informatika, Universitas Pamulang 

Setiap hari, jutaan orang Indonesia mengetik kalimat seperti “gue OTW, gaskeun!” di layar ponsel mereka  dan hampir tidak ada yang menyadari bahwa kalimat pendek itu adalah cerminan dari pertarungan besar: pertarungan antara teknologi dan Bahasa Indonesia. Di satu sisi, teknologi digital telah membawa Bahasa Indonesia ke panggung global. Di sisi lain, ia pelan-pelan menggerus kaidah bahasa yang selama ini menjadi pondasi identitas bangsa.

Saya berpendapat bahwa teknologi bukanlah musuh Bahasa Indonesia melainkan cermin yang memantulkan apa yang sebetulnya sudah ada: kurangnya komitmen kita untuk menjaga bahasa sendiri. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita menggunakannya. Dan inilah yang perlu kita benahi sekarang, sebelum terlambat.

Teknologi Membuka Peluang Besar bagi Bahasa Indonesia

Kita tidak boleh menutup mata terhadap sumbangan nyata teknologi bagi Bahasa Indonesia. Anwar (2024) mencatat bahwa teknologi telah mengubah pembelajaran bahasa menjadi lebih interaktif dan efektif melalui media digital. Hari ini, seseorang di pelosok Papua bisa belajar Bahasa Indonesia baku melalui video YouTube atau aplikasi e-learning sesuatu yang mustahil tiga dekade lalu.

Lebih jauh lagi, Siregar (2024) menunjukkan bahwa platform digital telah menjadi jembatan bagi Bahasa Indonesia untuk menjangkau dunia internasional. Konten berbahasa Indonesia kini tersebar di YouTube, TikTok, hingga podcast global. Bahasa Indonesia bahkan menjadi salah satu bahasa yang didukung oleh sistem kecerdasan buatan besar seperti Google Translate dan ChatGPT. Saputra (2022) menambahkan bahwa perkembangan Natural Language Processing (NLP) untuk Bahasa Indonesia membuka era baru di mana komputer dapat memahami dan memproses bahasa kita secara otomatis sebuah pencapaian luar biasa yang patut dirayakan.

Namun, Ada Harga yang Harus Kita Bayar

Di balik kemajuan itu, ada harga yang diam-diam kita bayar. Rahmawati (2023) mengamati bahwa kebiasaan berbahasa informal di media sosial singkatan, bahasa gaul, dan campur kode  semakin mengikis kemampuan generasi muda dalam menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kata-kata seperti “mager”, “spill”, dan “gaskeun” tidak sekadar slang  ia adalah gejala dari memudarnya kesadaran linguistik.

Wijaya (2023) mengingatkan bahwa paparan teknologi tanpa pengawasan dapat menurunkan kemampuan literasi formal siswa. Ketika seorang pelajar lebih fasih mengetik “w lagi gabut btw” daripada menulis paragraf yang koheren, kita perlu bertanya: di mana letak kegagalannya? Apakah pada teknologinya  atau pada sistem pendidikan dan keluarga yang tidak cukup menanamkan kecintaan pada bahasa?

Solusi Bukan Membuang Teknologi, tapi Mengarahkannya

Melarang anak-anak menggunakan media sosial atau membatasi teknologi bukan jawaban yang realistis bahkan kontraproduktif. Yang kita butuhkan adalah pergeseran cara pandang: teknologi harus dilihat sebagai alat, bukan sebagai otoritas yang menentukan standar berbahasa.

Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu bergerak lebih aktif dalam mengembangkan ekosistem digital berbahasa Indonesia yang berkualitas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi digital sudah ada  tapi apakah ia semudah diakses dan semenarik Google? Saputra (2022) menegaskan bahwa investasi pada teknologi NLP Bahasa Indonesia adalah langkah strategis yang perlu dipercepat. Bayangkan jika asisten AI populer bisa menegur pengguna ketika menulis kalimat yang tidak baku  bukan sebagai hukuman, tapi sebagai pendidikan yang menyenangkan.

Anwar (2024) dan Rahmawati (2023) sepakat bahwa perubahan kebiasaan berbahasa generasi muda hanya bisa terjadi jika ada kesadaran kolektif dari keluarga, sekolah, hingga konten kreator. Para influencer dan kreator konten memiliki tanggung jawab moral yang besar: mereka bisa menjadi agen normalisasi bahasa yang baik, bukan sebaliknya.

Bahasa adalah Rumah Kita

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah identitas, sejarah, dan cara kita memaknai dunia. Hutagalung (2020) mengingatkan bahwa bahasa dan teknologi selalu berjalan berdampingan sepanjang peradaban manusia dan setiap generasi bertanggung jawab atas bagaimana hubungan itu dibentuk.

Kita tidak perlu memilih antara teknologi dan Bahasa Indonesia. Kita hanya perlu cukup bijak untuk tidak membiarkan satu hal mengorbankan yang lain. Teknologi boleh berubah dengan cepat tapi Bahasa Indonesia adalah rumah yang harus tetap berdiri kokoh. Dan rumah itu hanya akan kokoh jika kita yang merawatnya.

Referensi

  • Anwar, R. (2024). Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Bahasa: Peluang, Tantangan, dan Implikasi. Jurnal Kajian Bahasa Indonesia.
  • Hutagalung, T. (2020). Bahasa dan Teknologi. Jurnal Bahas.
  • Rahmawati, D. (2023). Pengaruh Teknologi Terhadap Kemampuan Berbahasa Indonesia Generasi Muda. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia.
  • Saputra, I. (2022). Sejarah dan Perkembangan Teknik Natural Language Processing (NLP) Bahasa Indonesia. ELANG Journal.
  • Siregar, A. (2024). Analisis Peran Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Era Digital. RIGGS Journal.
  • Wijaya, F. (2023). Dampak Kemajuan Teknologi pada Pembelajaran Bahasa Indonesia. Argopuro Journal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *