Oleh : Gerry yan

Sekarang ini kita bisa mengirim pesan ke ratusan orang hanya dalam hitungan detik. Tapi anehnya, makin cepat kita berkomunikasi, makin sering kita salah paham. Di media sosial, grup WhatsApp kerjaan, bahkan di berita resmi, perdebatan sering kali terjadi bukan karena beda pendapat, tapi karena salah tangkap maksud kalimat. Di sinilah kita sering lupa kalau komunikasi yang jitu itu tidak bisa instan; ia butuh modal dasar bernama keteraturan berbahasa.

Banyak orang langsung alergi begitu mendengar kata “standardisasi bahasa” atau bahasa baku. Bayangannya langsung ke kamus tebal KBBI, aturan EYD yang bikin pusing, atau gaya bahasa guru sekolah yang kaku. Padahal, aturan bahasa itu dibuat bukan untuk mengekang atau sok keren. Aturan itu adalah kesepakatan bersama. Bayangkan kalau kita main sepak bola tanpa aturan yang jelas, atau setiap pemain punya aturan sendiri. Yang terjadi pasti kekacauan. Begitu juga dengan bahasa. Kalau setiap orang memakai istilah sesuka hatinya tanpa rujukan yang sama, kita hanya akan saling bersuara tanpa pernah benar-benar saling memahami.

Fenomena ini kian diperparah oleh munculnya bias kognitif dalam komunikasi digital, di mana ketiadaan nada bicara dan ekspresi wajah membuat teks rawan diproyeksikan secara keliru oleh penerima pesan. Standardisasi hadir sebagai jembatan yang meminimalkan ruang abu-abu tersebut. Ketika kita paham aturan main berbahasa, di situlah komunikasi yang presisi atau tepat sasaran bisa terjadi.

Dalam urusan kerja, hukum, atau bahkan saat meluruskan sebuah masalah, salah pilih kata atau salah meletakkan koma bisa fatal akibatnya. Pesan bisa melenceng jauh dari maksud aslinya. Komunikasi yang presisi itu intinya sederhana: apa yang ada di kepala Anda, itu juga yang sampai dan dipahami oleh orang lain, tanpa ada ruang untuk tebak-tebakan atau salah tafsir. Orang yang menguasai struktur bahasa biasanya tidak akan berbicara bertele-tele karena dia tahu persis kata apa yang paling pas untuk mewakili gagasannya. Ketepatan pemilihan kata (diksi) ini bukan sekadar urusan estetika sastra, melainkan sebuah kebutuhan mutlak dalam mentransfer informasi yang bersifat krusial dan sensitif.

Hubungan kedua hal ini sebetulnya sangat erat. Cara seseorang menyusun kalimat adalah cerminan dari caranya berpikir. Kalau kalimat yang keluar berantakan dan rancu, kemungkinan besar jalan pikirannya juga sedang ruwet. Kita tidak bisa mengharapkan sebuah masyarakat punya logika yang runtut kalau cara mereka membahasakan sesuatu saja masih asal-asalan. Bahasa yang terstruktur mencerminkan kedisiplinan intelektual yang membantu mengurai gagasan rumit menjadi formulasi yang mudah dicerna.

Jadi, peduli pada aturan Bahasa Indonesia di tengah gempuran bahasa gaul atau istilah internet sekarang ini bukanlah sikap yang kuno. Ini adalah cara agar obrolan kita tetap punya bobot. Dengan menjaga keteraturan berbahasa, kita sedang memastikan bahwa ide-ide yang kita sampaikan tidak sekadar menjadi bising, tapi bisa ditangkap dengan jernih, tajam, dan membawa dampak yang nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *