Ketika slang digital merajai percakapan sehari-hari, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan nyata: bagaimana menjaga kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar di tengah gempuran budaya linguistik baru?

Oleh: Stanley Hutama 

JAKARTA Siapa yang tak akrab dengan ungkapan “literally,” “no cap,” “slay,” atau “gabut”? Bagi Generasi Z mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 kosakata semacam itu bukan sekadar gaya bicara, melainkan identitas sekaligus cara membangun rasa kebersamaan di ruang digital yang serba cepat.

TikTok, Instagram, hingga X (Twitter) telah menjelma menjadi laboratorium bahasa baru yang melahirkan kosakata segar hampir setiap minggu. Namun di balik kreativitas itu, satu pertanyaan terus bergema di ruang kelas dan rapat dewan guru: apakah pemakaian bahasa Gen Z perlahan mengikis kemampuan generasi muda dalam menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar?

“Bahasa adalah cermin peradaban bangsa. Ketika generasi mudanya kehilangan kompas berbahasa formal, yang rugi bukan hanya mereka tapi kita semua.”

FENOMENA BAHASA GEN Z

Kreatif, Cepat, dan Penuh Singkatan

Bahasa yang digunakan Gen Z bukan tanpa pola. Ada kreativitas yang terstruktur di baliknya. Kata “bucin” lahir dari singkatan budak cinta, “mager” dari malas gerak, hingga ejaan yang sengaja diplesetkan sebagai ekspresi identitas digital. Selain itu, fenomena code-switching mencampur Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris dalam satu kalimat menjadi ciri khas yang kian dominan.

Kalimat seperti “Gue literally nggak ngerti, bro” atau “It’s giving vibes banget” sudah sangat lumrah terdengar. Ejaan pun sengaja diplesetkan: “yakin” menjadi “yakali,” “iya” menjadi “iyasalah” semua hadir sebagai bagian dari budaya digital yang terus bergerak.

Kosakata Gen Z yang Sering Muncul di Ruang Kelas

Istilah Slang Gen ZPadanan Bahasa Indonesia
LiterallySungguh-sungguh / benar-benar
No capTidak berbohong / serius
SlayTampil memukau / berhasil
GabutTidak ada kegiatan / bosan
BucinBudak cinta
HealingMenenangkan diri / rekreasi
It’s givingTerasa seperti / bernuansa
ValidDapat diterima / masuk akal

DAMPAK TERHADAP PEMBELAJARAN

Ketika Laporan Resmi Ditulis dengan “Gue”

Kekhawatiran para pendidik bukan tanpa dasar. Guru-guru Bahasa Indonesia di berbagai sekolah melaporkan fenomena serupa: siswa semakin sulit membedakan konteks penggunaan bahasa formal dan informal. Laporan resmi ditulis dengan kata “gue,” esai akademik diselipi “literally,” tanpa siswa menyadari kekeliruannya.

Kemampuan menulis formal pun ikut tergerus. Penguasaan kata baku, struktur kalimat efektif, hingga penerapan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) menjadi tantangan tersendiri bagi generasi yang terbiasa berkomunikasi dalam format singkat, cepat, dan bebas aturan baku.

DAMPAK POSITIF Memperkaya Kosakata Kreativitas linguistik Gen Z membuktikan bahwa bahasa terus hidup dan berkembang. Kosakata baru dari budaya digital justru memperkaya khazanah bahasa nasional seperti serapan asing yang telah ada jauh sebelumnya.DAMPAK NEGATIF Mengaburkan Batas Formal Penggunaan bahasa gaul yang tidak terkontrol mengikis kemampuan siswa memilah konteks kapan harus formal, kapan boleh santai. Kompetensi mendasar inilah yang mulai memudar dan perlu segera diperkuat.

RESPONS DUNIA PENDIDIKAN

Adaptif, Bukan Menyerah

Sejumlah sekolah mulai mengambil langkah adaptif. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual menggunakan contoh nyata dari media sosial untuk mengilustrasikan perbedaan ragam bahasa dinilai lebih efektif daripada sekadar melarang bahasa gaul di dalam kelas.

Beberapa langkah strategis yang mulai diterapkan para pendidik antara lain:

  • Penguatan literasi sejak dini melalui pembiasaan membaca karya sastra dan teks ilmiah.
  • Latihan menulis esai dan laporan formal secara rutin setiap pekan.
  • Pembelajaran berbasis konteks: menggunakan konten media sosial sebagai bahan ajar komparasi ragam bahasa.
  • Diskusi terbuka di kelas tentang perbedaan antara bahasa gaul dan bahasa baku.
KESIMPULAN REDAKSI Bahasa Indonesia tidak akan punah hanya karena tren slang Gen Z. Namun kecintaan terhadap bahasa nasional harus terus dipupuk dengan pendekatan yang relevan dan menyenangkan. Generasi muda yang mampu berselancar luwes antara bahasa gaul dan bahasa formal justru menunjukkan kecerdasan linguistik sejati sebab pada akhirnya, bukan soal memilih antara “no cap” atau “sungguh-sungguh,” melainkan tahu kapan harus menggunakan yang mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *