Oleh : Siti Komariah

PENGERTIAN BELAJAR

Kalau ditanya apakah belajar itu ?, maka jawaban yang akan kita dapatkan bermacam – macam. Banyak kegiatan yang hampir setiap orang dapat disetujui kalau disebut kegiatan belajar, seperti misalnya mendapatkan kumpulan kata – kata baru, menghafal puisi, menghafal nyanyian dan sebagainya.

Cronbach menyatakan didalam bukunya yang berjudul Educational Psychology bahwa “learning is shown by a change in behavior as a result of experience” (Cronbach, dalam Sumadi Suryabrata ( 2004 : 231).

Dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.

Sumadi Suryabrata didalam bukunya yang berjudul Psychology Pendidikan menyatakan bahwa “Belajar itu membawa perubahan ( dalam arti behavioral changes, aktual maupun potensial). Bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru ( dalam arti Kenntnis dan Fertingkeit). Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja)” (Sumadi Suryabrata, 2004 : 232 ).

Sumber: timedooracademy.com

PENGERTIAN MENCIPTAKAN SUASANA BELAJAR YANG MENYENANGKAN.

Suasana belajar yang kurang menyenangkan merupakan salah satu faktor kurangnya minat belajar siswa. Hal ini tentunya sangat berpengaruh pada pencapaian dari proses belajar tersebut.

Menciptakan adalah mewujudkan sesuatu yang tiada sebelumnya atau sesuatu yang belum pernah terjadi sama sekali dan bila seseorang menemukan hal yang baru, dia berhak mengenalkannya kepada orang lain yang belum mengenal hal tersebut.

Suasana adalah penilaian bagus atau tidaknya suatu tempat dari yang melihat ataupun yang merasakannya. Jika suasananya tidak bagus, otomatis orang yang melihat tidak mau mendekatinya dan sebaliknya, jika suasananya bagus, otomatis orang yang melihat akan melihat tempat tersebut.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.

Menyenangkan adalah perasaan seseorang yang sedang senang terhadap apa yang terjadi. Jika sudah merasa senang maka segala sesuatu yang dilakukan akan terasa lebih mudah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan adalah memunculkan suasana yang menyenangkan bagi siswa ketika siswa belajar dengan begitu siswa akan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, maka belajar pun pada akhirnya tidak dimaknai oleh anak sebagai aktivitas yang tidak bersahabat, tidak ramah dan jauh dari kegembiraan.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN BELAJAR SISWA

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Faktor ini diantaranya adalah ketenangan, kesabaran, kasih sayamg, dan kebetahan siswa dalam kelas. Selama ini sering kita jumpai di kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung, saat guru menerangkan beberapa murid asyik bercerita dengan temanya, berjalan-jalan, atau bermain sendiri.

            Tentu saja hal seperti diatas bisa membuat guru merasa tersinggung dan tidak dihormati. Tetapi mungkin juga guru merasa cuek,terserah yang penting sudah melaksanakan kewajibannya. Pengalaman seperti itu merupakan hal menarik untuk disimak. Sebagai guru kreatif, inovatif dan profesional tentu kita tidak ingin mengalami hal-hal seperti itu. Sebaiknya kita belajar dan terus belajar supaya peristiwa tersebut tidak menimpa kita sebagai guru.

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya permasalahan dikelas adalah guru yang selalu menonton dalam mengajar. Mereka hanya menyampaikan pengetahuan secara sepihak tanpa berusaha melibatkan mental psikologi anak.

Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. “Setiap anak berprestasi sesuai kemampuan yang dimilikinya dalam berbagai bindang” (Ratna, 2005 : 11), sehingga pendidik harus memiliki pemahaman tentang kebutuhan peserta didiknya. Maka seorang pendidik harus cerdas dalam memilih metode yang akan digunakan.

Guru adalah sosok yang di kagumi, dihormati, sehingga akan menjadi sangat memalukan baginya untuk mengakui kesalahan yang mungkin telah di perbuat kepada para siswanya. Kewibawaan seorang guru akan terlihat dari apa yang telah ia lakukan. Sikap mengakui kesalahan dan mau minta maaf menunjukkan kebersihan hati seseorang .

CARA MENCIPTAKAN SUASANA BELAJAR YANG MENYENANGKAN UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA

Mendidik adalah tugas mulia sekaligus berat karena hal ini diamanahkan langsung oleh Tuhan kepada setiap orang tua atau guru. Hal ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan pendidikan dalam kehidupan. Begitu pentingnya pendidikan karena ia berdampak langsung terhadap baik buruknya kualitas kehidupan bangsa ini.

Saat ini ketertarikan siswa terhadap belajar semakin kecil. Banyak siswa yang menganggap belajar itu membosankan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya cara mendidik yang digunakan oleh guru terlalu monoton serta lingkungan sekitar tempat siswa belajar yang kurang efisien, sehingga minat belajar siswa semakin berkurang. Adapun beberapa cara yang dapat menjadi panduan guru ataupun calon guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, diantaranya :

1. Jalinlah kedekatan dengan siswa

Pendidik harus mampu menumbuhkan kedekatan dengan anak. Kedekatan yang terjalin erat diantara keduanya menunjukkan adanya ikatan batin yang kuat. Dengan begitu, akan muncul rasa sayang, rasa untuk memperlakukan anak dengan sepenuh hati. Dan, sesuatu yang dilakukan dengan sepenuh hati akan menghasilkan sesuatu secara maksimal. Jangan lupa untuk selalu bersikap konsisten, kontinu, dan konsekuen dengan sikap yang sudah kita pilih.

Ratna Ningrum ( 2005: 15 ) menyatakan, “Manfaat menjalin kedekatan dengan anak adalah suasana akan selalu hangat dan akrab, munculnya rasa saling percaya, dan terciptanya iklim keterbukaan dan sikap terbukaan”. Dengan begitu anak akan leluasa berekspresi, bertanya, serta dapat mengeluarkan pendapatnya. Setelah itu, teruslah memotivasi siswa dalam belajar. Tapi jangan membandingkan anak satu dengan anak yang lainnya. Bandingkanlah anak dengan prestasi anak itu sendiri.

Eratnya hubungan antara pendidik dengan anak akan memudahkan setiap kegiatan belajar karena diantaranya sudah terjalin kedekatan dan rasa saling memiliki.

2. Hargai setiap karya siswa

Seorang pendidik harus menghargai setiap hasil atau prestasi yang dicapai oleh anak. Prestasi tidak selalu diartikan dengan juara. Prestasi anak adalah hasil peningkatan belajar yang dicapai setiap anak, misalnya dari tidak mengerti menjadi mengerti. Ratna Ningrum ( 2005 : 14 ) menyatakan, “Mulai membiasakan menghargai karya anak dari hal terkecil yang berhasil dicapainya, akan menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri”.

Memberi hadiah kepada anak merupakan salah satu cara untuk menghargai karya anak. Hadiah tidak harus berupa barang, tetapi dapat diberikan dalam bentuk apapun seperti pujian, senyum serta pelukan. Hadiah diberikan untuk memberikan kesan positif yang pada akhirnya akan meningkatkan motivasi anak dalam belajar.

Berikan penghargaan secara sungguh – sungguh dan tulus. Ratna Ningrum ( 2005 : 18 ) menyatakan, “Kebermaknaan hadiah bukan dilihat dari wujudnya, tetapi dari mengapa ia bisa didapat dan siapa pemberinya”.

3. Pilihlah metode yang tepat dalam mengajar

Mengajar adalah kegiatan yang dinamis sepanjang zaman. Metode atau model pembelajaran harus mengikuti perkembangan zaman, seorang pendidik harus mau bersikap terbuka terhadap perubahan. Teruslah berupaya mengembangkan diri melalui berbagai cara agar kita tidak tertinggal oleh laju perkembangan zaman. Ketertinggalan seperti ini akan membuat kita tidak dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran anak secara tepat.

Pendidik hendaknya bersikan yakin dan percaya diri pada saat mengajar. Sikap takut, ragu, atau tidak yakin, cemas, dan semacamnya akan mudah diketahui oleh anak. Yakinlah apa yang kita sampaikan akan dapat diterima, dipahami dan bermanfaat bagi peserta didik.

Jadikan tema sebagai benang merah dalam kegiatan belajar anak. Dengan  begitu kegiatan belajar akan lebih terprogram. Tema akan membantu anak berpikir sistematis dan membantu anak agar lebih fokus. Penggunaan tema juga akan membantu pendidik dalam menentukan media dan alat bantu yang digunakan.

Pengguanaan media belajar akan membuat anak memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai materi yang dipelajari. “Media adalah sesuatu yang dikemas secara menarik untuk suatu tujuan pembelajaran, yang disajikan dalam berbagai bentuk atau jenis, mudah dikenal, mudah dipelajari, mudah dipahami, serta menghibur anak dalam berbagai situasi belajar yang sedang mereka jalani” ( Ratna, 2005 : 23 ). Media belajar tidak harus berteknologi tinggi dengan harga mahal, tetapi benda – benda yang ada disekitar kita pun dapat dipakai. Oleh karena itu seorang pendidik harus memiliki kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan untuk menemukan atau membuat sesuatu yang baru, asli, berbeda dan tentunya bermanfaat. “Kreativitas adalah bukti kecerdasan dan keterampilan yang dimiliki seseorang” (Ratna, 2005 : 21)

Perlu ditekankan bahwa kegiatan belajar hanya dapat berlangsung dengan baik dalam suasana kebersamaan. Menurut Ratna Ningrum ( 2005 : 31 ) menyatakan bahwa, “Metode partisipasi, seperti diskusi, tanya jawab, praktik bersama, dan sebagainya adalah metode belajar yang tepat untuk digunakan”.

Setiap anak perlu diransang untuk berpartisipasi. Perlu diingat bahwa partisipasi tidak harus dalam bentuk menjawab pertanyaan atau bercerita panjang lebar tentang tema yang sedang dibahas. Partisipasi dapat dilakukan dalam bentuk apapun, termasuk duduk dan mendengarkan teman yang sedang mengemukakan pendapat yang berbeda. Dengan begitu, siapapun dapat berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Hindari metode belajar ceramah satu arah tanpa memberi anak kesempatan untuk berperan secara aktif. Tanpa keterlibatan anak secara aktif, belajar tidak akan efektif.

Biasakan memberi tugas kepada anak setiap selesai belajar. Dengan tugas yang diberikan, anak sekaligus mengulang kembali materi yang telah diperoleh.

4. Menciptakan Lingkungan Kelas Yang Menarik

Lingkungan kelas adalah salah satu faktor penentu minat siswa dalam belajar. Seorang guru harus dapat mendesain lingkungan kelas agar dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Lalu apa yang perlu disiapkan ?

Pertama, mulailah kegiatan pembelajaran dengan membersihkan dan menciptakan lingkungan yang nyaman. Desain lah ruangan dengan hal – hal yang membuat hati ceria. Misalnya dengan menempelkan gambar – gambar tokoh kartun yang disenangi anak atau bisa juga dengan menempelkan gambar – gambar sesuai dengan tema pelajaran.

Kedua, sediakanlah peralatan kebersihan dan tempat sampah yang memadai. Buat kesepakatan aturan berkaitan dengan kebersihan, baik untuk membersihkan tempat, membuang sampah pada tempatnya, maupun merapikan dan membersihkan kembali peralatan yang telah digunakan.

“Kenyamanan dan kebersihan ruangan atau lingkungan merupakan kontributor tercapainya suasana belajar yang menyenangkan” (Ratna, 2005 : 24) Anak juga memerlukan lingkungan untuk dapat membantu mengembangkan imajinasinya.

KESIMPULAN

Setelah mempelajari makalah ini, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa mendidik bukanlah hal yang sederhana. Oleh karena itu orang tua dan guru salaku pendidik sangat berperan penting dalam membangkitkan semangat belajar siswa.

Pendidik haruslah cerdas dan kreativ dalam mengajar sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan saat belajar dikelas agar siswa tidak merasa jenuh, dengan begitu siswa akan lebih cepat memahami materi yang diberikan oleh seorang pendidik.

Seorang pendidik juga sangat berperan penting dalam membentuk rasa percaya diri siswa, karena hal ini sangat dibutuhkan siswa dalam belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *