Oleh: Bhian Rahmandha & Muhammad Romdhoni

Pendidikan Indonesia sedang memasuki fase baru. Jika sebelumnya teknologi lebih banyak digunakan untuk kelas daring, pencarian materi, atau pengumpulan tugas, kini kecerdasan artifisial mulai hadir sebagai alat bantu belajar yang lebih personal. Salah satu bidang yang paling terasa dampaknya adalah pembelajaran bahasa.

Kehadiran tutor berbasis kecerdasan artifisial atau artificial intelligence membuka peluang bagi siswa untuk berlatih membaca, menulis, menyusun kalimat, memperbaiki tata bahasa, hingga memahami teks secara lebih mandiri. Namun, pemanfaatan teknologi ini tidak dapat dilepaskan dari peran guru, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis siswa.

Perkembangan tersebut menjadi penting karena ruang digital Indonesia terus membesar. DataReportal mencatat bahwa pada akhir 2025 terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia, dengan tingkat penetrasi internet mencapai 80,5 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan. (DataReportal – Global Digital Insights)

Bahasa Menjadi Kunci dalam Pendidikan Digital

Dalam pembelajaran, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa juga menjadi sarana berpikir, memahami informasi, menyusun argumen, dan menyampaikan gagasan. Karena itu, kemampuan berbahasa menjadi dasar penting bagi siswa untuk mengikuti perkembangan pendidikan digital.

Masalahnya, kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih menjadi perhatian. Dalam laporan PISA 2022, OECD mencatat bahwa hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 74 persen. Pada level tersebut, siswa setidaknya mampu menemukan gagasan utama, memahami informasi eksplisit, dan merefleksikan tujuan serta bentuk teks. (OECD)

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi pendidikan tidak cukup hanya menghadirkan perangkat atau aplikasi. Teknologi perlu diarahkan untuk membantu siswa memahami teks, memperkaya kosakata, membangun struktur kalimat yang baik, dan menumbuhkan kebiasaan membaca secara kritis.

AI sebagai Tutor Bahasa

Tutor AI dapat membantu siswa belajar bahasa melalui umpan balik yang cepat. Misalnya, siswa dapat meminta bantuan untuk memperbaiki paragraf, mengecek ketepatan kata, menyusun ringkasan, atau memahami makna teks yang sulit. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, teknologi ini dapat digunakan untuk melatih keterampilan membaca kritis, menulis argumentatif, dan menyusun teks yang sesuai dengan kaidah kebahasaan.

Meski demikian, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti guru. Guru tetap berperan sebagai pengarah, penilai, dan pembimbing proses belajar. UNESCO menekankan bahwa penggunaan AI generatif dalam pendidikan harus tetap berpusat pada manusia, memperhatikan etika, inklusi, keadilan, serta keberagaman bahasa dan budaya. (UNESCO)

Dengan demikian, penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa perlu diarahkan sebagai alat bantu, bukan jalan pintas. Siswa tetap harus belajar memahami isi teks, menyusun gagasan sendiri, dan memeriksa kembali hasil yang diberikan oleh sistem.

Guru Perlu Menguasai Literasi AI

Tantangan terbesar pemanfaatan AI di sekolah bukan hanya soal ketersediaan teknologi, tetapi juga kesiapan guru. Guru perlu memahami cara kerja dasar AI, batasan penggunaannya, risiko kesalahan informasi, serta cara mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran.

UNESCO melalui AI Competency Framework for Teachers menjelaskan bahwa guru pada era AI perlu menguasai pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang berkaitan dengan penggunaan AI. Kerangka tersebut memuat beberapa dimensi penting, antara lain pola pikir yang berpusat pada manusia, etika AI, dasar dan aplikasi AI, pedagogi AI, serta pemanfaatan AI untuk pengembangan profesional guru. (UNESCO)

Dalam konteks pembelajaran bahasa, guru dapat menggunakan AI untuk membuat variasi bahan bacaan, merancang latihan menulis, menyusun soal pemahaman teks, atau memberikan contoh perbaikan kalimat. Akan tetapi, guru tetap perlu memverifikasi hasil AI agar tidak memuat kesalahan fakta, bias, atau penggunaan bahasa yang kurang sesuai dengan konteks belajar siswa.

Tidak Semua Teknologi Otomatis Meningkatkan Pembelajaran

Pemanfaatan teknologi pendidikan perlu dilakukan secara hati-hati. Laporan World Bank tentang EdTech di kawasan Asia Timur dan Pasifik menyebutkan bahwa teknologi dapat membantu pembelajaran, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada desain, konteks, kesiapan pengguna, dan bukti dampak terhadap hasil belajar. Dalam laporan tersebut, beberapa pendekatan EdTech dinilai menunjukkan potensi, sedangkan intervensi berbasis AI masih memerlukan pembuktian lebih kuat dalam skala besar. (Open Knowledge Repository)

Artinya, sekolah tidak cukup hanya mengadopsi aplikasi baru. Setiap penggunaan teknologi harus dikaitkan dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Dalam pembelajaran bahasa, tujuan tersebut dapat berupa peningkatan kemampuan membaca, ketepatan menulis, penguasaan kosakata, kemampuan menyusun argumen, dan keterampilan memahami informasi digital.

Pembelajaran Bahasa Harus Tetap Kritis dan Beretika

AI dapat membantu siswa menulis lebih cepat, tetapi kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. Dalam pendidikan bahasa, proses berpikir tetap penting. Siswa perlu memahami mengapa sebuah kalimat kurang efektif, mengapa sebuah paragraf tidak padu, atau mengapa suatu informasi perlu diverifikasi.

Di sinilah literasi digital dan literasi bahasa bertemu. Siswa tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu membaca hasil teknologi secara kritis. Mereka perlu memahami bahwa jawaban AI dapat terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu sepenuhnya benar.

Pemerintah Indonesia juga mulai memberi perhatian pada pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial. Dalam naskah akademik pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial, penguatan literasi digital, koding, dan kecerdasan artifisial disebut sebagai bagian dari strategi transformasi pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. (Sistem Informasi Kurikulum Nasional)

Peluang untuk Pemerataan Belajar

Jika digunakan dengan tepat, tutor AI dapat membantu siswa yang membutuhkan latihan tambahan di luar jam pelajaran. Siswa yang kesulitan memahami teks dapat meminta penjelasan ulang dengan bahasa yang lebih sederhana. Siswa yang sedang belajar menulis dapat memperoleh contoh perbaikan struktur kalimat. Sementara itu, guru dapat memanfaatkan AI untuk menyusun bahan ajar yang lebih beragam.

Meski demikian, pemerataan akses tetap menjadi pekerjaan besar. Tidak semua siswa memiliki perangkat, koneksi internet stabil, atau lingkungan belajar yang mendukung. Karena itu, transformasi digital pendidikan harus tetap memperhatikan kesenjangan akses, kesiapan sekolah, dan kemampuan guru dalam mengelola teknologi.

UNICEF Indonesia menyoroti bahwa penguatan pembelajaran digital di Indonesia perlu dilakukan melalui beberapa langkah, seperti memperkuat konten dan platform pembelajaran digital, mengembangkan keterampilan digital siswa dan guru, serta memperluas konektivitas sekolah. (UNICEF)

Kesimpulan

Kehadiran AI dalam pendidikan membuka peluang besar bagi pembelajaran bahasa di Indonesia. Teknologi ini dapat membantu siswa membaca, menulis, memahami teks, dan memperbaiki penggunaan bahasa secara lebih personal. Namun, manfaat tersebut hanya dapat tercapai jika AI digunakan secara terarah, etis, dan tetap berada dalam bimbingan guru.

Pembelajaran bahasa di era digital tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi. Lebih dari itu, siswa perlu dibimbing untuk berpikir kritis, memahami informasi, menyusun gagasan, dan menggunakan bahasa secara bertanggung jawab.

Dengan pendekatan yang tepat, tutor AI dapat menjadi mitra belajar yang membantu pendidikan Indonesia bergerak menuju pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Referensi

  • DataReportal. (2025). Digital 2026: Indonesia. (DataReportal – Global Digital Insights)
  • OECD. (2023). PISA 2022 Results: Indonesia Country Note. (OECD)
  • UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. (UNESCO)
  • UNESCO. (2024). AI Competency Framework for Teachers. (UNESCO)
  • World Bank. (2023). Using Education Technology to Improve K-12 Student Learning in East Asia Pacific: Promises and Limitations. (Open Knowledge Repository)
  • UNICEF Indonesia. (2021). Strengthening Digital Learning across Indonesia: A Study Brief. (UNICEF)
  • Kemendikdasmen. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *