Oleh : Luthfi Suryana, Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pamulang suryana.main@gmail.com Industri game modern udah berkembang pesat, bukan cuma dari sisi grafis maupun mekanisme mainnya, tapi juga soal kualitas cerita yang ditampilkan. Sekarang banyak game yang ngasih alur narasi yang agak rumit, karakter yang tumbuh pelan-pelan, serta semesta fiksi yang dibangun dengan detail. Gaya begini misalnya terlihat dari Genshin Impact, Honkai: Star Rail, Zenless Zone Zero, sampai Arknights: Endfield, game-game itu kelihatan banget kalau cerita bisa jadi daya tarik utama, jadi pemain terus merasa pengen ngikutin tiap perkembangan. Karena pasar global makin lebar, pengembang game pun ngasih ragam pilihan bahasa supaya karyanya bisa dinikmati lintas negara termasuk Indonesia. Saat ini, pemain bisa memilih pakai teks asli berbahasa Inggris, Tiongkok, atau Jepang, atau juga pakai terjemahan Bahasa Indonesia yang memang disediakan resmi. Dari situ biasanya muncul pertanyaan yang sering dibahas pemain, semacam apakah pakai terjemahan Bahasa Indonesia itu bikin pengalaman menikmati cerita jadi lebih bagus, atau justru teks aslinya lebih oke? Menurut penulis, terjemahan Bahasa Indonesia biasanya jadi opsi paling aman, dan bisa dibilang yang terbaik buat kebanyakan pemain, karena ini bikin pemahaman terhadap jalan cerita lebih cepat nempel. Tapi, buat pemain yang maunya menangkap nuansa bahasa, budaya, dan makna yang lebih “tajam”, teks asli tetap punya kelebihan yang susah ditukar begitu saja. Terjemahan Bikin Cerita Lebih Gampang Diikuti Ngga semua pemain punya kemampuan bahasa asing yang mumpuni. Nah, hadirnya terjemahan Bahasa Indonesia bikin lebih banyak orang bisa menikmati cerita, tanpa mesti bergantung pada kamus atau penerjemah daring terus menerus. Pada game seperti Genshin Impact atau Honkai: Star Rail, pemain dihadapkan pada dialog yang panjang, istilah dunia fiksi yang kompleks, serta hubungan antarkarakter yang saling berkaitan. Kalau pemain agak kesulitan memahami bahasa yang dipakai, sebagian besar informasi penting di cerita bisa saja terlewat, begitu saja. Dalam kajian mengenai game localisation, Mangiron dan O’Hagan menjelaskan bahwa proses lokalisasi itu bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata, melainkan menyesuaikan bahasa, budaya, dan cara menyampaikan dialog agar pemain di negara tujuan mendapatkan pengalaman bermain yang mirip, atau setara dengan versi aslinya. Dengan kata lain, tujuan utama lokalisasi adalah menjaga pengalaman bermain, bukan cuma mengubah bahasa saja. Lewat pendekatan itu, pemain Indonesia bisa mengikuti alur cerita tanpa harus punya kemampuan bahasa asing yang tinggi. Terjemahan yang hadir juga bikin game lebih inklusif, karena lebih banyak orang jadi bisa menikmati kontennya, tanpa hambatan berarti. Tidak Semua Makna Dapat Dipindahkan ke Bahasa Lain Walau kualitas lokalisasi makin hari makin bagus, penerjemahan tetap punya keterbatasan sendiri. Bahasa itu bukan hanya deretan kata, tetapi juga memuat unsur budaya, gaya komunikasi, permainan kata, sampai emosi yang kadang sangat susah dialihkan ke bahasa lain. Misalnya, Genshin Impact memakai beberapa istilah khas seperti Vision, Archon, Fatui, dan Abyss, yang sengaja dipertahankan supaya identitas dunia Teyvat tetap terasa. Sementara itu di Honkai: Star Rail, istilah seperti Aeon, Path, dan Emanator juga punya makna yang agak filosofis, sehingga tidak selalu ada padanan di Bahasa Indonesia yang benar-benar bisa dianggap setara sepenuhnya. Pada Zenless Zone Zero, percakapan antar karakter banyak ngeluarin bahasa yang santai, berasa banget “modern”, dan kadang penuh ungkapan yang agak ngawang. Jadi penerjemah harus mikirin padanan yang enak didengar buat pemain Indonesia, tapi tetap jangan sampai ngilangin jati diri masing masing karakter. Di sisi lain, Arknights: Endfield juga masih ngejaga beberapa istilah dunia game sebagai bagian dari identitas cerita, jadi ya gak semuanya diterjemahkan. Nah kondisi kayak gitu bikin terlihat bahwa terjemahan tidak selalu bisa nyimpen seluruh nuansa yang ada di teks aslinya. Karena itu, ada sebagian pemain yang memilih pakai teks aslinya, sebab mereka merasa bisa menangkap maksud penulis secara lebih menyeluruh. Teks Asli Memberi Pengalaman yang Lebih “Autentik” Buat pemain yang udah biasa banget pakai bahasa Inggris, teks asli biasanya menghadirkan pengalaman membaca yang lebih natural. Pilihan diksi, pola bicara karakter, sampai permainan kata umumnya lebih gampang dipahami, tanpa harus lewat proses adaptasi bahasa yang panjang lebar. Perbedaan kecil aja di pemilihan kata bisa ngaruh ke kesan terhadap karakter, atau situasi tertentu. Misalnya satu kalimat yang terkesan serius dalam bahasa asli, bisa terasa lebih ringan setelah diterjemahkan, atau bisa juga malah kebalikannya. Ini bukan berarti terjemahan itu buruk ya. Lebih ke arah setiap proses penerjemahan selalu melibatkan interpretasi. Penerjemah harus memutuskan kata mana yang paling cocok dengan konteks budaya pembaca, sehingga gak semua elemen bahasa asli bisa dipertahankan dengan rapi dan sempurna. Tantangan kayak gitu, justru jadi salah satu fokus yang sering dibahas dalam kajian lokalisasi game. Akhirnya, sebagian pemain yang aktif ngejar teori cerita (lore) atau ikut bahas bersama komunitas internasional, cenderung lebih memilih pakai teks asli biar mereka gak kehilangan makna tertentu, yang kadang kalau diterjemahkan bisa ikut “bergeser” sedikit. Lokalisasi Bahasa Indonesia Terus Menggeliat Munculnya Bahasa Indonesia di game-game modern itu kelihatan jelas, kalau pengembang mulai benar benar memperhatikan pemain Indonesia. Ini sesuatu yang bisa dibilang positif, karena makin banyak orang bisa menikmati cerita tanpa harus terkendala bahasa, atau semacam hambatan teknis yang bikin ragu. Ada juga penelitian yang membahas lokalisasi Genshin Impact. Dalam analisis itu disebutkan bahwa penerjemah memakai beberapa strategi, supaya dialognya bisa diselaraskan dengan struktur Bahasa Indonesia, tapi makna inti percakapan tetap aman. Penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa penerjemah tidak sekadar mengalih bahasakan secara harfiah. Mereka juga mempertimbangkan hal-hal seperti budaya, pilihan gaya tutur, dan konteks obrolan, supaya lebih nyaman dipahami pemain Indonesia. Menurut penulis, pendekatan seperti itu termasuk langkah yang tepat. Soalnya tujuan utama dari sebuah narasi itu bukan cuma “ada”, tapi bisa dipahami pembacanya. Kalau pemain harus berhenti sebentar, atau bahkan berkali kali, hanya untuk menelusuri arti satu kalimat saja, maka pengalaman menikmati cerita ikut turun, jadi terasa kurang mengalir. Tapi ya, pemain juga perlu menyadari satu hal, terjemahan itu bukan fotokopi yang benar benar sempurna dari teks aslinya. Ada beberapa istilah yang mungkin akan lebih cocok dipertahankan dalam bentuk aslinya, supaya identitas dunia dalam game tetap terjaga. Penutup Perdebatan soal memakai terjemahan atau teks asli, pada dasarnya memang tidak punya jawaban tunggal yang mutlak. Oke, pilihan terbaik biasanya tergantung pada tujuan masing-masing pemain saat menikmati game. Kalau tujuan utamanya adalah supaya cerita lebih mudah diikuti, dan perkembangan karakter bisa dinikmati tanpa gangguan bahasa, maka terjemahan Bahasa Indonesia jelas membantu. Sebaliknya, kalau pemain ingin pengalaman yang terasa lebih autentik, sekaligus menangkap nuansa bahasa dan budaya yang dibangun pengembang, teks asli bisa memberi kedalaman yang lebih terasa. Menurut penulis, keduanya nggak usah benar-benar dipertentangkan. Terjemahan itu semacam jembatan yang membuka akses untuk lebih banyak pemain, sementara teks aslinya lebih ke pilihan bagi mereka yang mau nangkep cerita dengan cara yang lebih dalam. Tapi yang paling penting bukan bahasa yang dipakai, bukan juga sekadar istilah yang dipilih, melainkan seberapa jauh pemain bisa benar-benar menikmati alur, memahami pesan yang mau disampaikan, dan ikut merasakan pengalaman yang pengembang game niatkan sejak awal. Daftar Pustaka Mangiron, C., & O’Hagan, M. (2006). Game Localisation: Unleashing Imagination with “Restricted” Translation. The Journal of Specialised Translation, (6), 10–21. https://doi.org/10.26034/cm.jostrans.2 006.735 Nugroho, A. (2011). Video Game Localization: A Case Study of the Translation of Bully. Journal of English Language and Culture, 1(1). https://journal.ubm.ac.id/index.php/en glish-language- culture/article/view/309/0 Oktaviana, B. S., & Ishlahiyah, M. (2024). Translation Solutions of Game Localization: Exclamative Utterances in The Genshin Impact Video Game. Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha, 12(2), 129–138. https://doi.org/10.23887/jpbi.v12i2.80 245 Post navigation Transformasi Linguistik di Era Digital: Analisis Simbiosis antara Teknologi dan Bahasa Manusia Mengingat Kembali Kemerdekaan Indonesia