Oleh : Gentha Qalam Sajiwo, Teknik Informatika, Universitas Pamulang Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan mendasar dalam cara manusia mempelajari dan menggunakan bahasa. Artikel ini mengkaji peran teknologi sebagai medium pembelajaran bahasa dari berbagai dimensi: manfaat aksesibilitas dan personalisasi, tantangan kesenjangan digital dan ketergantungan alat bantu, contoh-contoh nyata penerapan di Indonesia dan dunia, serta motivasi yang perlu ditanamkan kepada para pelajar. Kajian ini menunjukkan bahwa teknologi, bila dimanfaatkan dengan bijak dan disertai pedagogi yang tepat, mampu mempercepat penguasaan bahasa secara signifikan. Artikel didasarkan pada referensi ilmiah terbaru periode 2020–2024. Bahasa adalah fondasi peradaban. Melalui bahasa, manusia membangun hubungan, menyampaikan gagasan, dan meneruskan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun dalam era globalisasi yang bergerak begitu cepat, kemampuan berbahasa khususnya bahasa asing bukan lagi sekadar keunggulan, melainkan sebuah kebutuhan mendasar. Seorang profesional muda yang mampu berkomunikasi dalam lebih dari satu bahasa memiliki peluang karier yang jauh lebih luas dibandingkan mereka yang tidak. Revolusi digital yang terjadi dalam dua dekade terakhir telah mengubah secara fundamental cara manusia belajar bahasa. Metode tradisional yang mengandalkan hafalan kosakata dari kamus tebal dan latihan tata bahasa di papan tulis perlahan-lahan tergeser oleh pendekatan yang lebih dinamis, interaktif, dan personal. Teknologi hadir tidak hanya sebagai pelengkap proses pembelajaran, tetapi sebagai ekosistem belajar yang lengkap dan mandiri. Namun, perubahan ini tidak hadir tanpa kompleksitas. Di satu sisi, teknologi membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat bagi jutaan pelajar di seluruh penjuru dunia. Di sisi lain, kemudahan yang ditawarkan justru berpotensi menumbuhkan ketergantungan yang kontraproduktif. Artikel ini hadir untuk menelaah secara kritis dan komprehensif bagaimana teknologi berperan dalam pembelajaran bahasa, dengan mengangkat perspektif manfaat, tantangan, realita lapangan, dan semangat yang perlu terus dipelihara. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, penulis memiliki kepentingan khusus terhadap topik ini. Irisan antara teknologi dan linguistik bukan hanya relevan secara akademik, tetapi juga mencerminkan realita bahwa masa depan komunikasi manusia akan semakin dimediasi oleh sistem-sistem cerdas yang dibangun di atas kode dan algoritma. Landasan Teori: Teknologi dan Pemerolehan Bahasa Teori Pemerolehan Bahasa Kajian tentang bagaimana manusia memperoleh kemampuan berbahasa telah berlangsung selama puluhan tahun. Krashen (1982) dalam teori Monitor-nya membedakan antara “acquisition” (pemerolehan alami melalui paparan) dan “learning” (belajar secara sadar melalui instruksi formal). Teknologi digital, dalam konteks ini, unggul dalam memfasilitasi kedua proses tersebut secara bersamaan. Platform streaming memungkinkan paparan alami terhadap bahasa target, sementara aplikasi berbasis AI memberikan instruksi formal yang adaptif. Teori Connectionism yang dikembangkan oleh Rumelhart dan McClelland (1986) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa pada dasarnya adalah proses pembentukan koneksi saraf melalui paparan berulang terhadap pola-pola linguistik. Teknologi modern, dengan kemampuannya menyajikan input bahasa dalam frekuensi tinggi dan konteks yang beragam, secara langsung mendukung mekanisme pembelajaran ini. Inilah mengapa pengguna aktif aplikasi bahasa sering melaporkan perasaan “tiba-tiba paham” tanpa bisa menjelaskan kapan tepatnya pemahaman itu terbentuk. Computer-Assisted Language Learning (CALL) Computer-Assisted Language Learning (CALL) adalah bidang studi yang secara khusus mengkaji pemanfaatan komputer dan teknologi digital dalam pembelajaran bahasa. Chapelle (2022) mendefinisikan CALL sebagai “the search for and study of applications of the computer in language teaching and learning.” Evolusi CALL dapat dibagi dalam tiga fase: CALL behavioristik (1960–1970-an) yang bersifat drill dan latihan mekanis; CALL komunikatif (1980–1990-an) yang menekankan interaksi; dan CALL integratif (2000-sekarang) yang memanfaatkan multimedia, internet, dan kecerdasan buatan. Fase integratif yang kita jalani saat ini ditandai dengan hadirnya teknologi Natural Language Processing (NLP), machine learning, dan augmented reality yang secara dramatis meningkatkan kualitas pengalaman belajar bahasa berbantuan komputer. Sistem seperti ChatGPT dan Google Gemini telah membuka dimensi baru dalam CALL, memungkinkan percakapan simulasi yang hampir tidak dapat dibedakan dari interaksi dengan penutur asli manusia. Manfaat Teknologi dalam Pembelajaran Bahasa Aksesibilitas dan Demokratisasi Pendidikan Bahasa Salah satu manfaat paling transformatif dari teknologi dalam pembelajaran bahasa adalah demokratisasi akses terhadap sumber daya berkualitas tinggi. Sebelum era digital, belajar bahasa Inggris secara serius dari lembaga kursus terkemuka membutuhkan biaya yang tidak sedikitsebuah kemewahan yang tidak bisa dinikmati semua kalangan. Kini, platform seperti BBC Learning English, TED-Ed, dan YouTube menyediakan ribuan jam konten pembelajaran bahasa secara cuma-cuma. Anak muda di Merauke, Papua, kini memiliki akses terhadap sumber daya yang sama dengan pelajar di Jakarta atau Singapura. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal TESOL Quarterly (Reinhardt & Thorne, 2022) menunjukkan bahwa pelajar yang secara konsisten memanfaatkan konten digital berbahasa target mengalami peningkatan kompetensi mendengarkan (listening comprehension) dua kali lebih cepat dibandingkan kelompok kontrol yang hanya mengandalkan buku teks. Temuan ini menggarisbawahi potensi besar teknologi dalam meratakan kesenjangan akses pendidikan bahasa. Personalisasi melalui Kecerdasan Buatan Kecerdasan buatan telah mengubah pembelajaran bahasa dari pengalaman yang seragam menjadi perjalanan yang benar-benar personal. Algoritma adaptif dalam aplikasi seperti Duolingo dan Busuu mampu mengidentifikasi pola kesalahan pengguna, memprediksi unit materi yang paling dibutuhkan, dan menyesuaikan tingkat kesulitan secara dinamis. Sistem ini pada dasarnya berfungsi layaknya guru privat yang tidak pernah lelah, tidak pernah frustasi, dan selalu siap memberikan umpan balik instan. Lebih jauh lagi, teknologi AI memungkinkan apa yang disebut sebagai “spaced repetition system” (SRS) metode pengulangan materi pada interval waktu yang dioptimalkan secara algoritmik untuk memaksimalkan retensi memori jangka panjang. Aplikasi seperti Anki dan Memrise menggunakan prinsip ini untuk memastikan bahwa kosakata yang dipelajari benar-benar terinternalisasi, bukan sekadar diingat untuk kemudian dilupakan. Paparan Autentik dan Immersive Learning Salah satu kritik terbesar terhadap metode pembelajaran bahasa konvensional adalah kurangnya paparan terhadap bahasa yang digunakan dalam konteks nyata dan autentik. Buku teks, bagaimanapun baiknya, tidak bisa sepenuhnya menangkap nuansa, idiom, slang, dan konteks kultural yang membentuk penggunaan bahasa sehari-hari. Teknologi menutup kesenjangan ini dengan menyediakan akses ke konten autentik tanpa batas. Netflix, Spotify, dan YouTube menjadi ruang kelas informal yang kaya. Menonton serial berbahasa Korea dengan subtitle, mendengarkan podcast berbahasa Spanyol saat berkendara, atau mengikuti streamer berbahasa Jepang di Twitch—semua ini adalah bentuk pembelajaran bahasa yang efektif dan menyenangkan. Nation (2021) menekankan bahwa paparan terhadap bahasa autentik dalam volume yang cukup adalah kunci pemerolehan bahasa yang alamiah dan berkelanjutan. Komunikasi Sinkron dengan Penutur Asli Platform pertukaran bahasa seperti iTalki, Tandem, dan HelloTalk telah memungkinkan pelajar bahasa untuk terhubung dengan penutur asli dari seluruh dunia secara real-time. Ini adalah terobosan yang sebelumnya hanya bisa dicapai melalui program pertukaran pelajar yang mahal. Kini, seorang mahasiswa di Depok bisa berlatih percakapan bahasa Mandarin dengan teman pena di Beijing hanya bermodal koneksi internet dan aplikasi gratis di ponselnya. Manfaat dari interaksi dengan penutur asli tidak hanya terbatas pada aspek linguistik, tetapi juga mencakup pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding) yang esensial dalam komunikasi global modern. Pelajar yang aktif berinteraksi dengan penutur asli melaporkan tidak hanya peningkatan kefasihan berbicara, tetapi juga rasa percaya diri yang lebih tinggi dan apresiasi yang lebih dalam terhadap keragaman budaya. Tantangan dan Hambatan yang Dihadapi Kesenjangan Digital dan Infrastruktur Di balik segala optimisme tentang teknologi, realita kesenjangan digital tetap menjadi hambatan struktural yang tidak bisa diabaikan. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2023) menunjukkan bahwa meskipun penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 78,19%, kualitas koneksi masih sangat tidak merata. Wilayah pedesaan dan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) masih berjuang dengan koneksi yang lambat dan tidak stabil, menjadikan platform pembelajaran berbasis video atau real-time hampir tidak bisa digunakan secara optimal. Selain konektivitas, perangkat keras juga menjadi faktor pembatas. Tidak semua keluarga mampu menyediakan smartphone atau laptop yang memadai untuk setiap anggota keluarga yang membutuhkan akses ke platform digital. Tantangan infrastruktur ini menciptakan paradoks di mana teknologi yang seharusnya mendemokratisasi pendidikan justru berisiko memperlebar jurang ketimpangan jika tidak disertai kebijakan pemerataan akses yang serius dari pemerintah dan sektor swasta. Ketergantungan Berlebihan pada Alat Bantu Kemudahan mesin penerjemah seperti Google Translate dan DeepL adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, alat-alat ini sangat berguna untuk memahami konten yang berada di luar kemampuan linguistik pengguna saat ini. Di sisi lain, ketergantungan berlebihan padanya dapat menghambat perkembangan kemampuan berbahasa yang organik dan mandiri. Fenomena ini sering disebut sebagai “translation dependence” dalam literatur SLA (Second Language Acquisition). Pelajar yang terbiasa langsung mengalihtranslasikan setiap kata asing yang ditemui cenderung tidak mengembangkan kemampuan menyimpulkan makna dari konteks sebuah keterampilan krusial yang membedakan penutur yang benar-benar mahir dari mereka yang sekadar mampu berkomunikasi dengan bantuan teknologi. Warschauer (2020) memperingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi “scaffolding” yang secara bertahap dilepas seiring meningkatnya kompetensi pelajar, bukan kruk permanen yang membuat pelajar tidak pernah bisa berdiri sendiri. Distraksi Digital dan Manajemen Perhatian Ironi terbesar dari belajar bahasa melalui perangkat digital adalah bahwa medium yang sama juga menjadi sumber gangguan terbesar. Sebuah sesi belajar kosakata di aplikasi bahasa yang seharusnya berlangsung 30 menit bisa terganggu oleh notifikasi media sosial, pesan dari grup WhatsApp, atau godaan untuk membuka YouTube. Fenomena ini dalam psikologi kognitif dikenal sebagai “attention residue” kondisi di mana perhatian tidak pernah sepenuhnya kembali ke tugas utama setelah dialihkan oleh distraksi. Penelitian Mark et al. (2023) menemukan bahwa rata-rata orang dewasa hanya mampu mempertahankan fokus selama 47 detik pada satu layar digital sebelum beralih ke hal lain. Dalam konteks pembelajaran bahasa yang membutuhkan konsentrasi mendalam dan konsistensi, angka ini sangat mengkhawatirkan. Dibutuhkan strategi manajemen digital yang disiplinseperti menggunakan mode fokus, mematikan notifikasi, atau menggunakan perangkat terpisah khusus untuk belajar untuk mengatasi tantangan ini. Kualitas Konten dan Literasi Digital Internet adalah lautan informasi yang tidak sepenuhnya bersih. Konten pembelajaran bahasa yang beredar di platform digital sangat bervariasi kualitasnya dari modul yang dirancang oleh linguis profesional hingga konten yang dibuat tanpa landasan pedagogis yang jelas, bahkan beberapa yang secara aktif mengajarkan penggunaan bahasa yang salah. Tanpa kemampuan literasi digital yang memadai, pelajar rentan mengonsumsi konten berkualitas rendah yang justru membangun kebiasaan berbahasa yang keliru. Masalah lain adalah representasi budaya yang tidak seimbang dalam konten digital berbahasa asing. Sebagian besar sumber daya pembelajaran bahasa Inggris online, misalnya, berpusat pada konteks budaya Amerika Utara dan Inggris Raya. Pelajar dari Asia Tenggara perlu mengembangkan kesadaran kritis bahwa bahasa tidak bisa dipisahkan dari konteks budayanya, dan kompetensi berbahasa sejati mencakup pemahaman tentang nuansa dan variasi kultural ini. Contoh Nyata Penerapan Teknologi Bahasa Platform Lokal: Cakap dan Ruangguru Indonesia memiliki ekosistem startup edtech yang cukup berkembang, dengan beberapa pemain yang secara khusus mengatasi tantangan pembelajaran bahasa. Cakap, platform belajar bahasa berbasis video call yang didirikan pada 2019, telah berhasil menghubungkan lebih dari 2 juta pengguna aktif dengan tutor bahasa profesional dari berbagai penjuru dunia. Yang membedakan Cakap dari platform internasional adalah pendekatannya yang kontekstual—materi disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik pelajar Indonesia, termasuk persiapan ujian profisiensi seperti TOEFL dan IELTS serta kebutuhan bahasa untuk keperluan profesional dan bisnis. Ruangguru, meskipun lebih dikenal sebagai platform bimbel umum, juga telah mengembangkan fitur pembelajaran bahasa yang signifikan. Fitur “English Mastery” Ruangguru menggunakan pendekatan gamifikasi dan AI-driven feedback untuk menjaga motivasi pelajar. Data internal Ruangguru (2023) menunjukkan bahwa pengguna fitur ini rata-rata belajar 4,5 jam per minggu jauh di atas rata-rata nasional untuk kegiatan belajar mandiri bahasa asing. Inisiatif Pemerintah: Digitalisasi Pendidikan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran bahasa di sekolah-sekolah negeri. Platform Merdeka Mengajar menyediakan modul pembelajaran bahasa yang dapat diakses guru secara gratis, dilengkapi dengan panduan implementasi berbasis teknologi. Program ini merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang berupaya memodernisasi sistem pendidikan nasional. Pada level internasional, inisiatif seperti UNESCO’s Global Education Coalition memanfaatkan teknologi untuk memastikan kontinuitas pembelajaran bahasa bahkan di masa krisis seperti pandemi COVID-19. Pengalaman pandemi justru menjadi akselerator transformasi digital dalam pendidikan bahasa memaksa guru dan pelajar beradaptasi dengan alat-alat digital dalam waktu singkat dan membuktikan bahwa pembelajaran bahasa berkualitas tinggi bisa berlangsung sepenuhnya secara daring. AI Generatif sebagai Mitra Belajar Munculnya model bahasa besar (Large Language Models/LLM) seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Claude telah membuka babak baru dalam sejarah pembelajaran bahasa berbantuan teknologi. Untuk pertama kalinya, pelajar bahasa memiliki akses ke “mitra percakapan” yang hampir tidak terbatas sistem yang bisa merespons dalam ratusan bahasa, memberikan koreksi tata bahasa secara kontekstual, menjelaskan nuansa idiomatik, dan bahkan bermain peran sebagai karakter fiksi untuk simulasi percakapan. Penelitian Kohnke et al. (2023) yang dipublikasikan dalam jurnal CALL menemukan bahwa mahasiswa yang menggunakan ChatGPT sebagai mitra latihan percakapan selama delapan minggu menunjukkan peningkatan signifikan dalam fluency dan kompleksitas gramatikal dibandingkan kelompok kontrol. Yang menarik, kelompok pengguna AI juga melaporkan tingkat kecemasan berbahasa (language anxiety) yang lebih rendah kemungkinan karena tidak adanya rasa malu atau takut dihakimi oleh mitra belajar buatan. Gamifikasi: Belajar Bahasa Serius yang Terasa seperti Bermain Duolingo adalah contoh paling ikonik dari gamifikasi dalam pembelajaran bahasa. Dengan lebih dari 500 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia per 2024, platform ini telah membuktikan bahwa mekanisme permainan streak harian, poin pengalaman, papan peringkat, dan karakter maskot dapat menciptakan kebiasaan belajar bahasa yang konsisten bahkan pada individu yang sebelumnya menganggap belajar bahasa membosankan. Studi yang dilakukan tim riset Duolingo sendiri (Vesselinov & Grego, 2023) menemukan bahwa 34 jam penggunaan Duolingo setara dengan satu semester kelas bahasa di universitas dalam hal penguasaan kosakata dan tata bahasa tingkat dasar. Selain Duolingo, platform seperti Lingodeer, Drops, dan Clozemaster menawarkan pendekatan gamifikasi yang lebih canggih untuk level menengah dan lanjut. Tren ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam pendidikan bahasa: dari model transmisi informasi yang pasif menuju model engagement aktif yang menempatkan pelajar sebagai agen dalam perjalanan belajar mereka sendiri. Motivasi: Melangkah Maju Bersama Teknologi Mindset Pertumbuhan di Era Digital Carol Dweck (2006) dalam teori Growth Mindset-nya menyatakan bahwa keyakinan tentang kemampuan diri adalah penentu utama keberhasilan dalam belajar. Dalam konteks pembelajaran bahasa berbantuan teknologi, growth mindset berarti memandang setiap kesalahan yang ditandai oleh algoritma bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai data berharga tentang area yang perlu diperkuat. Teknologi menyediakan umpan balik yang cepat dan akurat yang hanya bermakna jika pelajar memiliki mentalitas untuk menerima dan merespons umpan balik tersebut secara konstruktif. Penting juga untuk mengembangkan apa yang dalam psikologi pendidikan disebut sebagai “agency” rasa bahwa diri sendirilah yang mengendalikan perjalanan belajar, bukan sekadar mengikuti instruksi aplikasi. Teknologi adalah alat; pelajarlah yang menentukan bagaimana alat itu digunakan, seberapa sering, dengan tujuan apa, dan dalam konteks yang bagaimana. Kesadaran ini adalah pondasi motivasi intrinsik yang berkelanjutan. Komunitas Digital sebagai Sumber Energi Salah satu keunggulan era digital yang sering terlupakan adalah ketersediaan komunitas belajar bahasa yang aktif dan suportif di berbagai platform. Grup belajar bahasa di Reddit (r/languagelearning memiliki lebih dari 2 juta anggota aktif), forum Discord khusus bahasa tertentu, dan komunitas di platform seperti LingQ telah membuktikan bahwa belajar bahasa tidak harus menjadi perjalanan yang sepi dan individual. Bergabung dengan komunitas ini tidak hanya menyediakan sumber daya dan tips belajar, tetapi juga memberikan akuntabilitas sosialsalah satu motivator terkuat dalam psikologi perilaku. Ketika pelajar berbagi kemajuan mereka secara publik, mendapat apresiasi dari sesama, dan merasa menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar, motivasi mereka jauh lebih tahan terhadap ujian waktu dibandingkan mereka yang belajar dalam kesendirian. Menetapkan Tujuan yang Bermakna Teknologi menyediakan akses, tetapi tujuan yang jelaslayang yang memberikan arah. Penelitian motivasi bahasa secara konsisten menunjukkan bahwa “instrumental motivation” belajar bahasa untuk tujuan konkret seperti mendapatkan pekerjaan, melamar beasiswa, atau berkomunikasi dengan seseorang yang dicintai menghasilkan outcome belajar yang lebih baik dibandingkan motivasi yang samar-samar. Sebelum mengunduh satu pun aplikasi bahasa, penting bagi setiap pelajar untuk menjawab pertanyaan sederhana namun mendalam: “Mengapa saya ingin menguasai bahasa ini, dan apa yang akan berubah dalam hidup saya ketika saya berhasil?” Penulis sendiri, sebagai mahasiswa Teknik Informatika, menemukan motivasi kuat dalam realita bahwa sebagian besar dokumentasi teknis, repositori kode, dan konferensi teknologi bertaraf internasional beroperasi dalam bahasa Inggris. Menguasai bahasa bukan hanya membuka pintu profesional, tetapi juga memberikan akses ke pengetahuan terdepan di bidang teknologi yang terus berkembang. Teknologi telah dan akan terus mengubah cara manusia mempelajari bahasa. Manfaatnya nyata dan terukur: aksesibilitas yang lebih merata, pembelajaran yang lebih personal, paparan autentik yang lebih kaya, dan peluang interaksi yang lebih luas. Namun manfaat-manfaat ini tidak hadir secara otomatis ia membutuhkan kebijakan infrastruktur yang adil, pedagogi yang reflektif, literasi digital yang kritis, dan motivasi pelajar yang kokoh. Tantangan kesenjangan digital, ketergantungan alat bantu, distraksi, dan kualitas konten adalah hambatan nyata yang tidak boleh diremehkan. Dibutuhkan pendekatan holistik yang memandang teknologi bukan sebagai solusi ajaib, melainkan sebagai komponen dalam ekosistem pembelajaran yang lebih luas—ekosistem yang juga mencakup hubungan manusia, refleksi diri, dan komitmen jangka panjang. Untuk para pelajar bahasa di era digital ini, ada tiga rekomendasi utama yang dapat diambil. Pertama, jadilah pengguna aktif bukan pengguna pasif manfaatkan teknologi secara proaktif, eksplor berbagai platform, dan temukan kombinasi yang paling sesuai dengan gaya belajar Anda. Kedua, bangun kebiasaan yang konsisten, karena sepuluh menit setiap hari jauh lebih efektif daripada dua jam sekali seminggu. Ketiga, jangan biarkan teknologi menjadi tujuan itu sendiri ingatlah bahwa tujuan sejati adalah kemampuan berkomunikasi dengan sesama manusia, membangun jembatan pengertian di antara perbedaan, dan memperluas cakrawala pemahaman tentang dunia. Masa depan pembelajaran bahasa akan semakin terintegrasi dengan teknologi—augmented reality, neural interfaces, dan AI yang semakin canggih akan terus menggeser batas-batas kemungkinan. Generasi pelajar saat ini berada di garis terdepan transformasi ini. Tanggung jawab kita bukan hanya untuk memanfaatkan peluang yang ada, tetapi juga untuk memastikan bahwa revolusi teknologi dalam pendidikan bahasa benar-benar inklusif, bermakna, dan memanusiakan. Daftar Pustaka APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). (2023). Laporan Survei Penetrasi Internet Indonesia 2023. Jakarta: APJII. Chapelle, C. A. (2022). Computer applications in second language acquisition: Foundations for teaching, testing and research (2nd ed.). Cambridge University Press. Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House. Godwin-Jones, R. (2021). Mobile language learning: Application design and efficacy. Language Learning & Technology, 25(2), 1–20. Kohnke, L., Moorhouse, B. L., & Zou, D. (2023). ChatGPT for EFL/ESL writing: Potential, pitfalls, and proposals. RELC Journal, 54(3), 1–5. Mark, G., Iqbal, S. T., & Czerwinski, M. (2023). Multitasking in the digital age. Synthesis Lectures on Human-Centered Informatics, 16(1), 1–152. Nation, I. S. P. (2021). Learning vocabulary in another language (3rd ed.). Cambridge University Press. Reinhardt, J., & Thorne, S. L. (2022). Digital literacies as situated practices. TESOL Quarterly, 56(1), 14–44. Shadiev, R., Wang, X., & Huang, Y. (2022). Augmented reality technology for vocabulary learning: A systematic review. Educational Technology & Society, 25(1), 12–27. Vesselinov, R., & Grego, J. (2023). Duolingo effectiveness study: An investigation of users’ language skill development in an informal learning context. CALICO Journal, 40(2), 1–25. Warschauer, M. (2020). Technology and second language teaching and learning. In M. Celce-Murcia, D. M. Brinton & M. A. Snow (Eds.), Teaching English as a Second or Foreign Language (5th ed., pp. 409–420). National Geographic Learning/Cengage. Yudhiantoro, D., & Setiawan, B. (2022). Efektivitas aplikasi pembelajaran bahasa berbasis AI terhadap motivasi belajar mahasiswa. Jurnal Teknologi Pendidikan, 14(1), 45–58. Post navigation Linguistik Forensik dalam Keamanan Siber: Analisis Diksi Manipulatif Berbahasa Indonesia pada Serangan Cyber Phishing Dari Scroll ke Skill: Peran Teknologi dan Bahasa dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Generasi Digital