Nama: Musdalifa Nim : 251011400040 Pendahuluan Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kehadiran internet serta berbagai platform media sosial telah mengubah cara manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda merupakan kelompok yang paling aktif dalam memanfaatkan media sosial, seperti Instagram, Twitter, TikTok, dan WhatsApp, sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang ekspresi diri yang bebas dan fleksibel. Dalam penggunaannya, media sosial mendorong terciptanya gaya bahasa yang lebih santai, singkat, dan tidak selalu mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran gaya bahasa di kalangan mahasiswa, baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Fenomena pergeseran gaya bahasa ini menjadi penting untuk dikaji karena dapat memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam menggunakan bahasa secara tepat sesuai dengan konteks. Jika tidak disikapi dengan bijak, perubahan ini dapat berdampak pada menurunnya kualitas penggunaan bahasa, khususnya dalam lingkungan akademik. Pembahasan 1. Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Bahasa Mahasiswa Media sosial memiliki karakteristik komunikasi yang cepat, praktis, dan tidak terbatas ruang serta waktu. Pengguna cenderung menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami agar pesan dapat tersampaikan secara efektif dalam waktu singkat. Hal ini memunculkan berbagai bentuk bahasa baru, seperti singkatan kata, penggunaan istilah gaul, serta campuran bahasa asing. Mahasiswa sebagai pengguna aktif media sosial secara tidak langsung mengadopsi gaya bahasa tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang awalnya digunakan dalam komunikasi informal di dunia maya kini mulai digunakan dalam percakapan langsung, bahkan dalam situasi yang seharusnya menggunakan bahasa formal. 2. Bentuk-Bentuk Pergeseran Gaya Bahasa Pergeseran gaya bahasa mahasiswa dapat dilihat dari beberapa bentuk yang sering digunakan, antara lain: – Penggunaan bahasa tidak baku Mahasiswa sering menggunakan kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, seperti “gak”, “nggak”, atau penyingkatan lainnya yang tidak tepat dalam penulisan formal. – Penggunaan campuran bahasa (code mixing) Banyak mahasiswa mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam satu kalimat, misalnya “Aku lagi sibuk banget, banyak deadline.” – Penggunaan bahasa gaul dan slang Kata-kata seperti “santai banget”, “parah sih”, atau istilah populer lainnya sering digunakan dalam berbagai situasi. – Penggunaan simbol, emotikon, dan singkatan digital Emotikon serta singkatan seperti “LOL”, “BTW”, atau “FYI” sering digunakan untuk mempercepat komunikasi. 3. Dampak Positif Pergeseran Gaya Bahasa – Meningkatkan kreativitas berbahasa – Mempermudah komunikasi – Meningkatkan kemampuan bahasa asing 4. Dampak Negatif Pergeseran Gaya Bahasa – Menurunnya kemampuan penggunaan bahasa formal – Kesalahan penggunaan bahasa sesuai konteks – Mengikis identitas bahasa nasional – Menurunnya kualitas komunikasi akademik 5. Upaya Mengatasi Pergeseran Gaya Bahasa – Meningkatkan kesadaran penggunaan bahasa yang baik dan benar – Membiasakan bahasa formal dalam akademik – Mengembangkan literasi digital – Peran dosen sebagai contoh – Menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia Penutup Pergeseran gaya bahasa mahasiswa akibat pengaruh media sosial merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari di era digital. Mahasiswa diharapkan mampu menyeimbangkan penggunaan bahasa santai dan formal agar tetap menjaga kualitas komunikasi akademik. Post navigation Media Sosial dan Demokrasi: Antara Kebebasan Berpendapat dan Polarisasi Publik Kondisi Darurat Emisi Karbon Kota Depok