oleh: Bodi Santoso Kota Depok mencatatkan total emisi 4,2 juta ton CO₂ per tahun (2024), naik 23,4% dibanding 2019. Sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar (43,2%), diperparah oleh lebih dari 1,8 juta kendaraan bermotor dan kemacetan kronis. RTH kota hanya 8,6% — jauh di bawah standar minimal 30% — sehingga kapasitas penyerapan karbon alami sangat terbatas. Kondisi ini menempatkan Depok sebagai salah satu kota penyangga dengan tekanan emisi tertinggi di Jawa Barat. Tujuh Kecamatan dengan Emisi Tertinggi Dari 12 kecamatan di Kota Depok, 7 kecamatan prioritas teridentifikasi membutuhkan intervensi segera: Cimanggis — 682.450 ton/th (Sangat Tinggi) — industri + kepadatan Jl. Raya Bogor Sukmajaya — 574.320 ton/th (Sangat Tinggi) — permukiman padat + komuter Depok–Jakarta Pancoran Mas — 521.870 ton/th (Sangat Tinggi) — pusat perdagangan + Terminal Depok + Jl. Margonda Tapos — 489.110 ton/th (Tinggi) — pertumbuhan permukiman baru + industri ringan Beji — 412.560 ton/th (Tinggi) — kawasan Universitas Indonesia + kepadatan kos Cilodong — 387.230 ton/th (Tinggi) — kawasan industri + permukiman padat Cinere — 289.450 ton/th (Sedang-Tinggi) — perumahan menengah-atas + mobilitas kendaraan pribadi tinggi Ketujuh kecamatan ini secara bersama-sama menyumbang ±75% total emisi Kota Depok. Sistem ECO-AI: Prediksi Akurat dan Faktor Dominan Framework ECO-AI mengintegrasikan 5 model kecerdasan buatan — LSTM, Random Forest, XGBoost, Graph Neural Network, dan Reinforcement Learning — untuk memantau, memprediksi, dan mengoptimalkan kebijakan emisi secara real-time. Model LSTM mencapai akurasi sangat tinggi (R² = 0,924; MAPE = 4,97%). Faktor paling dominan penyebab emisi di 7 kecamatan prioritas adalah jumlah kendaraan bermotor, konsumsi BBM harian, dan kepadatan jaringan jalan. Tanpa intervensi, emisi diproyeksikan melonjak ke 5,9 juta ton CO₂ pada 2030. Rekomendasi: Tiga Skenario untuk Pangkas Emisi 19% Simulasi Reinforcement Learning menunjukkan kombinasi tiga intervensi mampu mengurangi emisi 19,1% (~1,13 juta ton CO₂/tahun) pada 2030 dengan investasi Rp 1,24 triliun, difokuskan pada 7 kecamatan prioritas: (1) Transportasi Hijau — Zona Rendah Emisi di Cimanggis, Sukmajaya & Pancoran Mas, 50 bus listrik Koridor Margonda, dan 120 km jalur sepeda; (2) Energi Terbarukan — PLTS atap di 2.340 fasilitas publik dan konversi 18.400 titik PJU ke LED; (3) Ekspansi RTH — penanaman 1,2 juta pohon khususnya di Tapos, Beji, dan Cilodong menuju target RTH 20%. Langkah pertama yang direkomendasikan adalah mengintegrasikan dashboard ECO-AI ke platform Smart City Depok sebagai pusat pengambilan kebijakan berbasis data. Post navigation Pergeseran Gaya Bahasa Mahasiswa Akibat Pengaruh Media Sosial Kaya Tanpa Stres: Cara Mengatur Uang Yang Tidak Membosankan