Habibullah Ar Rasyid1, Ilham Hakim2, Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia., habibullaharrasyid20@gmail.com, ilhamhakim0666@gmail.com Perkembangan digitalisasi menuntut aplikasi tidak hanya memiliki antarmuka (UI) yang menarik secara visual, tetapi juga komunikatif. Penggunaan teks dalam desain antarmuka, yang dikenal dengan istilah UX Writing, memegang peranan krusial dalam memandu pengguna. Namun, masih banyak aplikasi yang menggunakan terjemahan literal dan diksi yang kaku sehingga menimbulkan kebingungan (pain points). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif bagaimana pemilihan diksi Bahasa Indonesia pada elemen antarmuka memengaruhi tingkat kenyamanan pengguna. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menganalisis screenshot antarmuka dari beberapa skenario aplikasi, seperti pesan kesalahan dan tombol aksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemilihan diksi yang berempati, ringkas, dan menghindari jargon teknis (system-centric) terbukti mampu menurunkan beban kognitif (cognitive load) pengguna. Kesimpulannya, penerapan UX Writing berbahasa Indonesia yang memadukan kaidah baku dengan gaya komunikasi luwes sangat berpengaruh positif terhadap kenyamanan dan pengalaman pengguna (User Experience) secara keseluruhan. Pendahuluan Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia telah mendorong digitalisasi secara masif di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Hal ini ditandai dengan tingginya tingkat adopsi penggunaan aplikasi seluler (mobile apps) dan platform berbasis web dalam menunjang aktivitas sehari-hari, yang sekaligus membawa perubahan pada gaya komunikasi digital masyarakat (Sundary & Fauzah, 2024). Dalam interaksi antara manusia dan komputer, desain antarmuka pengguna (User Interface/UI) memegang peranan vital dalam menentukan kemudahan, pengalaman, dan tingkat konversi pengguna (Pohan & Salya, 2025). Namun, keberhasilan sebuah desain tidak hanya bergantung pada elemen visual seperti warna dan tata letak, melainkan juga pada elemen tekstual atau ragam bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan pengguna (Azami dkk., 2024). Penggunaan teks dalam desain antarmuka digital saat ini dikaji secara khusus dalam disiplin User Experience Writing atau UX Writing. Secara teoritis, UX Writing adalah praktik menulis salinan teks (copy) pada antarmuka pengguna untuk membimbing pengguna dalam menyelesaikan aktivitas di dalam sebuah produk digital secara intuitif. Saat ini, peranan penulisan UX semakin krusial karena adanya pergeseran perilaku pengguna yang cenderung memindai (scanning) informasi di layar aplikasi (Fauzansyah, 2024). Teks ini mencakup label tombol, pesan kesalahan (error message), instruksi, hingga notifikasi. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pengantar utama di berbagai aplikasi lokal maupun asing, menuntut pemilihan diksi yang tepat agar pengguna, dari berbagai latar belakang demografi, bisa mengoperasikan aplikasi tanpa kebingungan (Wongso & Sari, 2020). Pada kenyataannya, masih sering ditemukan aplikasi yang menggunakan terjemahan bahasa Indonesia yang kaku, literal, atau pemilihan diksi yang ambigu. Sebagai contoh, penggunaan kalimat instruksi atau tombol Call-to-Action (CTA) yang hanya bertuliskan “Ya/Tidak” tanpa konteks tindakan sering kali menyebabkan friksi keputusan atau kesalahan klik pada pengguna (Azami dkk., 2024). Kesalahan pemilihan kata ini pada akhirnya bermuara pada peningkatan pain points, yakni titik kesulitan atau rasa frustrasi yang dialami pengguna saat berinteraksi dengan sebuah sistem, yang sering kali terjadi karena pihak pengembang hanya berasumsi tanpa memedulikan kebutuhan tekstual penggunanya (Rahmawati dkk., 2023). Lebih lanjut, penggunaan pesan kesalahan yang terlalu teknis, seperti “Otentikasi Gagal” alih-alih kalimat suportif, sering membuat pengguna awam merasa terintimidasi. Padahal, tahap empati (empathize) dalam perancangan UX sangat diperlukan untuk memahami perspektif pengguna dan memandu mereka keluar dari kesalahan sistem (Alfirahmi, Kania, & Yusup, 2023). Dalam konteks komersial seperti e-commerce, evaluasi copywriting menunjukkan bahwa instruksi yang tidak jelas atau kaku dapat menurunkan minat penyelesaian transaksi (Peneliti UII, 2023). Kalimat instruksi yang lebih ringkas, berempati, dan komunikatif terbukti secara empiris mampu mengurangi tingkat frustrasi pengguna. Berdasarkan permasalahan tersebut, pemilihan diksi Bahasa Indonesia yang tepat bukan lagi sekadar pelengkap estetika, melainkan instrumen utama dalam membangun pengalaman pengguna (User Experience/UX) yang baik. Mengingat pentingnya aspek tekstual dalam desain antarmuka, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif bagaimana penggunaan diksi Bahasa Indonesia pada elemen antarmuka aplikasi memengaruhi tingkat kenyamanan pengguna. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan panduan bagi para pengembang perangkat lunak (developer) dan desainer UI/UX dalam mengimplementasikan kaidah Bahasa Indonesia yang komunikatif, benar, sekaligus ramah pengguna. Kajian Teori Desain Antarmuka Pengguna (UI) dan Pengalaman Pengguna (UX) Dalam pengembangan perangkat lunak, khususnya pada sisi frontend, User Interface (UI) merujuk pada segala sesuatu yang dirancang agar pengguna dapat berinteraksi dengan sebuah sistem, termasuk tata letak halaman, elemen visual, tombol, dan tipografi. Sementara itu, User Experience (UX) adalah pengalaman keseluruhan, persepsi, dan emosi yang dirasakan oleh pengguna saat berinteraksi dengan antarmuka tersebut (Fauzansyah, 2024). Jika UI membangun struktur visual aplikasi melalui kode seperti HTML dan CSS, maka UX memastikan bahwa struktur tersebut logis, efisien, dan tidak membingungkan pengguna saat dioperasikan. User Experience Writing (UX Writing) UX Writing adalah proses penyusunan teks (microcopy) yang terdapat pada antarmuka pengguna untuk memandu mereka dalam melakukan interaksi digital secara intuitif. Berbeda dengan copywriting tradisional yang bertujuan untuk promosi atau pemasaran, UX Writing berfokus pada fungsionalitas, kejelasan, dan empati untuk membantu pengguna menyelesaikan suatu tugas (Wongso & Sari, 2020). Teks dalam UX Writing mencakup elemen-elemen seperti label navigasi, instruksi formulir (placeholder), pesan keberhasilan (success message), pesan kesalahan (error state), hingga teks pada tombol Call-to-Action (CTA). Penulisan UX yang baik harus memenuhi tiga prinsip utama: jelas (clear), ringkas (concise), dan bermanfaat (useful), sehingga mampu menjembatani komunikasi antara sistem dan manusia tanpa hambatan (Alfirahmi, Kania, & Yusup, 2023). Teori Beban Kognitif (Cognitive Load Theory) dalam Interaksi Digital Dalam perancangan antarmuka, Cognitive Load Theory atau teori beban kognitif merujuk pada jumlah usaha mental yang diperlukan memori kerja (working memory) pengguna untuk memproses informasi di layar (Sweller, 1988, dalam penelitian UI/UX umum). Ketika sebuah aplikasi menggunakan kalimat instruksi yang panjang, ambigu, atau dipenuhi jargon teknis, beban kognitif pengguna akan meningkat secara drastis. Hal ini memaksa pengguna untuk berpikir lebih keras hanya untuk memahami tindakan dasar yang harus dilakukan, yang bertentangan dengan prinsip UX yang baik, yaitu “Jangan membuat pengguna berpikir” (Don’t make me think). Diksi dan Penerapan Kaidah Bahasa Indonesia Diksi merupakan pilihan kata yang tepat dan selaras penggunaannya untuk mengungkapkan suatu gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan (Azami dkk., 2024). Dalam konteks pengembangan sistem informasi di Indonesia, penulisan microcopy idealnya tetap mengacu pada kaidah tata bahasa yang baik, merujuk pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016). Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara bahasa yang baku dan nada bicara (voice and tone) yang bersahabat. Penggunaan istilah teknis terjemahan murni (misalnya “kredensial tidak valid”) sering kali meningkatkan beban kognitif pengguna awam. Oleh karena itu, pemilihan ragam bahasa dalam antarmuka harus disesuaikan dengan profil pengguna (user persona) agar pesan sistem dapat dipahami secara instan dan mencegah kesalahan pengoperasian akibat misinterpretasi teks. Metode Penelitian Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Penelitian kualitatif deskriptif dipilih karena tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengeksplorasi, memahami, dan mendeskripsikan fenomena penggunaan bahasa (linguistik terapan) dalam konteks desain antarmuka secara mendalam, bukan untuk mengukur hipotesis dalam bentuk angka. Objek dan Fokus Penelitian Objek penelitian ini adalah penggunaan diksi Bahasa Indonesia pada elemen antarmuka aplikasi digital, seperti pesan kesalahan (error message), label tombol (Call-to-Action), instruksi sistem, dan notifikasi. Fokus penelitian diarahkan pada penggunaan bahasa yang bersifat teknis, ambigu, maupun komunikatif dalam mendukung kenyamanan dan pengalaman pengguna (User Experience).. Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh melalui studi literatur dan analisis deskriptif terhadap contoh penggunaan diksi pada antarmuka aplikasi digital. Contoh-contoh tersebut dianalisis berdasarkan prinsip UX Writing, teori beban kognitif, serta kaidah Bahasa Indonesia yang komunikatif dan mudah dipahami pengguna Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Proses analisis dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk penggunaan diksi pada antarmuka aplikasi, kemudian mengevaluasi tingkat kejelasan, efektivitas komunikasi, dan pengaruhnya terhadap kenyamanan pengguna. Hasil analisis selanjutnya diinterpretasikan berdasarkan prinsip UX Writing dan teori cognitive load untuk mengetahui dampak penggunaan bahasa pada pengalaman pengguna aplikasi digital. Hasil dan Pembahasan Hasil dan pembahasan Tabel berikut menunjukkan contoh penggunaan diksi pada antarmuka aplikasi beserta analisis pengaruhnya terhadap kenyamanan pengguna. noJenis antarmukaDiksi pada sistemPermasalahan diksiDiksi yang lebih komunikatifDampak terhadap UX1Pesan Error Login“Otentikasi gagal”Terlalu teknis dan sulit dipahami pengguna awam“Password yang kamu masukkan salah”Mengurangi kebingungan pengguna2Pop-up Konfirmasi“Ya / Tidak”Ambigu karena tidak menjelaskan tindakan“Hapus Barang / Batal”Mengurangi kesalahan klik3Formulir Registrasi“Input tidak valid”Tidak menjelaskan letak kesalahan“Nomor HP belum sesuai format”Membantu pengguna memperbaiki kesalahan4Peringatan Sistem“Akses ditolak”Terkesan kaku dan tidak empatik“Maaf,kamu belum memiliki akses”Memberikan kesan lebih ramah5Tombol Pembayaran“Submit”Menggunakan istilah asing yang kurang familiar“Bayar Sekarang”Mempermudah pemahaman tindakan6Peringatan Sistem“Terjadi kesalahan” sistemTerlalu umum dan tidak informatif“Koneksi internet bermasalah, coba lagi”Mengurangi rasa frustrasi pengguna Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap penggunaan diksi pada antarmuka aplikasi digital, dapat disimpulkan bahwa pemilihan bahasa memiliki pengaruh terhadap kenyamanan pengguna dalam berinteraksi dengan sistem. Penggunaan diksi yang terlalu teknis, ambigu, dan kurang komunikatif cenderung meningkatkan kebingungan serta beban kognitif pengguna. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang lebih jelas, ringkas, dan berorientasi pada pengguna mampu membantu pengguna memahami instruksi sistem dengan lebih mudah. Selain itu, penerapan prinsip UX Writing dalam penggunaan Bahasa Indonesia juga berperan penting dalam menciptakan komunikasi yang lebih efektif antara sistem dan pengguna. Oleh karena itu, pemilihan diksi pada antarmuka aplikasi perlu memperhatikan aspek kejelasan, empati, dan kemudahan pemahaman agar pengalaman pengguna (User Experience) dapat ditingkatkan secara optimal DAFTAR PUSTAKA Alfirahmi, Kania, & Yusup. (2023). Rancang Bangun Aplikasi Pengelolaan Sampah Plastik Menggunakan Pendekatan Design Thinking. Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi (JUSTIN). Azami, Z. K., dkk. (2024). Penggunaan Ragam Bahasa Indonesia pada Antarmuka Pengguna (UI/UX) Aplikasi Digital. Jurnal TEKNOBIS. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Fauzansyah. (2024). Re-Design UI/UX Aplikasi PNM Digi Karyawan dengan Metode Design Thinking Untuk Meningkatkan Kepuasan Pengalaman Pengguna. Jurnal Vokasi Indonesia. Pohan, A. M., & Salya, A. (2025). Pengaruh UX Writing Pada Online Food Delivery Gofood terhadap Purchase Intention. Journal of Accounting and Finance Management. Rahmawati, dkk. (2023). Penerapan Design Thinking Dalam Menganalisis User Interface dan User Experience Pada Aplikasi Sampurasun. JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika). Sundary, L., & Fauzah, F. (2024). Studi Analisis Perkembangan Bahasa Indonesia di Era Digital.Innovative: Journal Of Social Science Research. Universitas Islam Indonesia. (2023). Evaluasi Copywriting Dalam Desain UX Web E-Commerce. Repositori DSpace UII. Wongso, & Sari. (2020). Analisa UX Writing terhadap User Experience pada Pengguna Aplikasi Grab. PROLOGIA. Post navigation Mahasiswa dan Teknologi: Antara Produktif dan Terlalu Bergantung Menavigasi Era Antroposen Digital dan Transformasi Perilaku Sosial Masyarakat Modern di Bawah Kendali Kecerdasan Buatan