Oleh: Muhammad Zidan Zulrifqi,Muhamad Az Zahari, Muhamad Tirta Febi Fadilah Mengapa Harus Bahasa Baku? Dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan berbagai ragam bahasa Indonesia. Saat mengobrol dengan teman, kita cenderung menggunakan ragam santai atau bahasa gaul. Namun, dalam situasi formal seperti proses belajar-mengajar di kelas, penulisan makalah, skripsi, atau surat resmi, kita diwajibkan menggunakan ragam bahasa baku. Bahasa baku adalah ragam bahasa yang cara pengucapan dan penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah standar yang telah dibakukan. Di Indonesia, standar ini merujuk pada Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Mempelajari bahasa baku sangat penting karena ragam ini berfungsi sebagai pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, sekaligus kerangka acuan (frame of reference) yang menjadi tolok ukur benar atau salahnya penggunaan bahasa seseorang. Untuk dapat menggunakan bahasa baku dengan baik, seorang pelajar harus mengenali ciri-cirinya. Berikut adalah karakteristik utama ragam bahasa baku: a. Tidak Terpengaruh Bahasa Daerah Bahasa baku terbebas dari unsur bahasa daerah yang mencolok, baik dari segi kosakata maupun imbuhan. Contoh salah: “Saya udah ngasih buku itu.” Contoh benar: “Saya sudah memberikan buku itu.” b. Tidak Terpengaruh Bahasa Asing (yang belum diserap) Penggunaan struktur gramatikal atau kosakata asing yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia harus dihindari. Contoh salah: “Banyak anggota-anggota yang hadir.” (pengaruh plural bahasa Inggris). Contoh benar: “Banyak anggota yang hadir.” c. Penggunaan Imbuhan Secara Eksplisit dan Konsisten Dalam ragam baku, awalan seperti me- dan ber- harus dinyatakan secara eksplisit. Contoh salah: “Dia jalan kaki ke sekolah.” Contoh benar: “Dia berjalan kaki ke sekolah.” d. Bukan Merupakan Ragam Percakapan (Bahasa Gaul) Kata-kata seperti bikin, kasih, entar, dan banget adalah ragam lisan/percakapan. Padanan bakunya adalah membuat, memberi, nanti, dan sekali. 3. Analisis Kesalahan Berbahasa yang Sering Terjadi Sebagai bahan evaluasi pembelajaran, mari kita cermati beberapa kesalahan ejaan dan diksi yang sering ditemukan dalam tugas sekolah atau kampus: Penulisan Preposisi (Kata Depan) vs Imbuhan: Sering kali siswa bingung membedakan “di” sebagai kata depan (dipisah) dan “di-” sebagai awalan (digabung). Rumus sederhananya: jika menunjukkan tempat, waktu, atau arah, penulisannya dipisah (contoh: di sekolah, di rumah). Jika menunjukkan kata kerja pasif, penulisannya digabung (contoh: ditulis, dibaca). Pleonasme (Pemborosan Kata): Menggunakan dua kata bersinonim yang maknanya sama. Contoh salah: “Agar supaya tujuan tercapai”, atau “Naik ke atas”. Gunakan salah satu saja: “Agar tujuan tercapai” atau “Supaya tujuan tercapai”. Bentuk Tidak Baku vs Baku: Menulis “apotik”, “ijin”, “jadwal”, “praktek”. Bentuk bakunya yang benar berturut-turut adalah apotek, izin, jadwal, dan praktik. 4. Kesimpulan Pembelajaran Penguasaan bahasa Indonesia baku merupakan kompetensi esensial yang harus dimiliki oleh setiap pelajar dan akademisi. Dengan memahami kaidah, ciri, serta berlatih menghindari kesalahan umum, kita tidak hanya melatih kemampuan penalaran yang logis dan sistematis, tetapi juga turut serta merawat dan memartabatkan bahasa persatuan kita. Pembelajaran bahasa tidak berhenti pada teori tata bahasa semata, melainkan harus diimplementasikan secara aktif dalam praktik membaca dan menulis yang kritis. Daftar Rujukan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Tersedia secara online. Chaer, A. (2011). Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Keraf, G. (1994). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah. Post navigation Blockchain dan Kemajuan Teknologi Saat Ini:Tren Sesaat atau Revolusi Masa Depan? Pemanfaatan Aplikasi Edukasi Berbasis AI dalam Pembelajaran Tata Bahasa Indonesia