Oleh: Munika Zai dan Kasih, Fakultas Teknik Informatika, Universitas Pamulang

Setiap manusia pasti memiliki musuh terbesar di pagi hari, dan musuh itu bukan pekerjaan, bukan tugas, bukan dosen, bahkan bukan mantan. Musuh terbesar itu adalah alarm, Alarm selalu datang tepat waktu penuh semangat dan tanpa rasa kasihan. Sementara kita? Baru tidur jam dua pagi karena alasan yang sangat “penting”, seperti scrolling Tik Tok, menonton “satu episode lagi, atau tiba-tiba merasa hidup harus direnungi jam 01.30 malam.


Setiap pagi, alarm berbunyi dengan sangat percaya diri. Suaranya keras, mengagetkan, dan seolah Mata memang terbuka sedikit, tetapi jiwa masih berada di alam mimpi. Tangan pun otomatis mencari HP dan menekan tombol snooze tanpa berpikir panjang. Setelah itu muncul kalimat paling berbahaya dalam sejarah manusia, yaitu “Lima menit lagi.”


Masalahnya 5 menit itu memiliki kekuatan misterius. Kadang terasa seperti sedetik, tetapi tiba-tiba waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 dan kita langsung duduk panik sambil bertanya, “INI HARI APA?!” Dalam keadaan setengah sadar, kita mulai menghitung kemungkinan terlambat, sambil berharap dosen juga bangun kesiangan.


Fenomena ini sering dialami oleh pekerja dan mahasiswa bahkan saya sendiri. Banyak orang sebenarnya punya niat untuk tidur cepat. Bahkan jam 9 malam sudah berkata, “Hari ini aku harus tidur lebih awal.” Namun pada akhirnya tetap online sampai tengah malam karena terlalu asyik bermain HP. Anehnya, saat malam hari mata terasa segar seperti tidak butuh tidur, tetapi saat pagi hari tubuh berubah menjadi manusia paling lemah di dunia.


Ada juga orang-orang yang membuat alarm lebih dari lima. Alarm pukul 05.00, 05.05, 05.10, 05.15, sampai 05.30. Tujuannya memang bagus, tetapi hasilnya tetap sama: semuanya dimatikan satu per satu dengan penuh ketenangan. Bahkan terkadang suara alarm malah masuk ke dalam mimpi. Ada yang bermimpi jadi peserta lomba sirine, ada juga yang mengira alarm adalah backsound konser


Hal paling menyedihkan terjadi ketika kita sebenarnya sudah bangun, tetapi memilih rebahan sebentar. Kita berkata pada diri sendiri, “Aku Cuma mau tarik selimut sebentar.” Namun ternyata tubuh menganggap itu sebagai izin tidur babak kedua. Saat bangun lagi, hidup langsung terasa seperti film action. Mandi super cepat, cari baju sambil panik, dan sarapan pun kadang Cuma minum air putih sambil lari keluar rumah


Walaupun terdengar lucu, kebiasaan sulit bangun pagi sebenarnya memiliki dampak buruk jika terus dilakukan. Kita bisa menjadi terlambat, karang fokus, mood yang tidak stabil, dan menjalani hari dengan buru-buru. Selain itu, tubuh juga menjadi mudah lelah karena pola tidur yang tidak teratur. Oleh sebab itu, penting untuk mulai mengatur waktu tidur dan mengurangi kebiasaan begadang yang tidak perlu.

Namun kenyataannya, teori tidur cepat memang terdengar mudah. Praktiknya? Jam 10 malam bilang mau tidur, jam 11 masih buka lnstagram, jam 12 nonton video lucu, dan jam 1 pagi tiba-tiba lapar. Dan akhirnya masak mie goreng.


Jadi, sebenarnya alarm tidak pernah salah. Alarm hanya menjalankan tugasnya dengan jujur dan disiplin. Yang sering bermasalah adalah manusia yang terlalu nyaman dengan kasur dan selimutnya sendiri. Untuk itu, mari kita mengubah kebiasaan buruk sulit bangun tidur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *