Oleh: Kayla allika anwar, Teknik Informatika, Universitas Pamulang

“Semua bisa karena terbiasa.”

Kalimat itu selalu terngiang di kepala saya setiap kali saya melihat layar komputer di laboratorium sekolah. Saya tidak pernah menyangka bahwa kalimat sederhana tersebut akan menjadi fondasi perjalanan hidup, dari seorang siswi yang biasa saja menjadi siswi yang bisa membanggakan diri sendiri dan membantu teman-teman.

Ketika pertama kali masuk sekolah, saya hanyalah siswi yang biasa. Tidak ada yang spesial dari diri saya. Saya tidak seperti teman-teman lain yang sudah memiliki bakat atau dasar dalam dunia teknologi, terutama di bidang jaringan. Saya hanyalah anak biasa yang datang ke sekolah dengan harapan menemukan mimpi yang belum jelas.

Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Setiap kali berjalan melewati laboratorium komputer, saya melihat para kakak kelas saya sibuk dengan kegiatan yang tidak saya pahami. Mereka duduk di depan komputer, mengetik sesuatu dengan cepat, dan terkadang berdebat tentang sesuatu yang tidak saya mengerti.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya saya dalam hati.

Rasa penasaran itu mulai tumbuh. Saya ingin tahu bagaimana mereka bisa begitu fokus dan terlihat sangat mudah memahami materi dari guru. Saya penasaran dengan apa yang membuat mereka begitu antusias dengan kegiatan di laboratorium itu.

Maka, saya mulai mendatangi laboratorium setelah jam pelajaran selesai. Tanpa mengajak teman-teman, saya datang sendiri, duduk di pojok ruangan, dan memperhatikan apa yang kakak kelas lakukan. Saat itu saya tidak bertanya, melainkan hanya mengamati dan belajar dari apa yang saya lihat.

Dari waktu ke waktu, saya mencoba mengikuti kegiatan mereka. Jemari saya mulai mencoba mengetik sesuatu di komputer. Saya juga memberanikan diri untuk bertanya dan berinteraksi dengan kakak kelas, mencoba tutorial yang mereka gunakan, hingga belajar dari kesalahan sendiri.

“Dari yang biasa menjadi bisa,” bisik saya kepada diri sendiri setiap kali saya berhasil menyelesaikan sesuatu yang baru.

Namun, nyatanya tidak semua orang tertarik pada kegiatan tersebut. Beberapa teman saya bahkan enggan datang ke laboratorium. “Ini bukan untuk kita,” kata mereka. “Kita tidak punya bakat di bidang ini.”

Meski begitu, saya yakin kegiatan ini akan sangat membantu saya di masa depan. Saya tidak peduli apakah teman-teman tertarik atau tidak. Fokus saya hanyalah belajar dan berkembang.

Bersyukurnya, pada akhir masa uji kompetensi, usaha itu membuahkan hasil yang memuaskan: saya berhasil meraih nilai 92.

Walaupun nilai itu tidak tergolong besar bagi sebagian orang, saya bangga bisa berdiri di kaki sendiri. Saya bangga bisa mencapai sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang berakar pada rasa penasaran.

Namun, kebanggaan saya tidak berhenti pada nilai tersebut, melainkan pada apa yang bisa saya lakukan setelahnya. Saya mulai merangkul teman-teman yang ingin berjuang bersama. Saya mengajarkan hal-hal yang sudah saya pahami serta berbagi tutorial dan sumber belajar yang saya gunakan.

“Semua bisa karena terbiasa,” kata saya kepada mereka. “Sesuatu yang bisa itu sejatinya berawal dari hal-hal yang biasa.”

Sejak saat itu, mereka mulai datang ke laboratorium bersama saya. Kami belajar bersama dan mencoba berbagai kegiatan praktik. Dari waktu ke waktu, mereka pun mulai mencapai nilai yang memuaskan.

Saya tidak hanya belajar dari rasa penasaran pribadi, tetapi juga dari apa yang bisa saya berikan kepada orang lain. Saya menyadari bahwa kebanggaan sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi, melainkan tentang bagaimana kita bisa bermakna bagi orang-orang di sekitar kita.

Kini, saat melihat teman-teman berhasil mencapai nilai yang memuaskan, ada rasa bahagia yang mendalam. Saya bangga karena bisa membantu mereka, berbagi ilmu, dan menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Dari penasaran menjadi kebanggaan.

Dulu saya hanyalah siswi biasa, tapi sekarang saya bisa membanggakan diri. Dulu saya hanya mengamati dari jauh, tapi akhirnya mampu berbagi ilmu dan mengajarkannya. Bahkan, saya membuktikan bahwa ketidakadaan bakat bukan halangan, terbukti dari nilai-nilai saya yang memuaskan.

Penutup: 

Perjalanan transformasi dari seorang siswi biasa menjadi sosok yang mampu membanggakan diri sekaligus membantu sesama adalah pelajaran yang akan selalu saya ingat. Ini bukan sekadar tentang pencapaian pribadi, melainkan bukti nyata bahwa siapa pun bisa melakukan apa pun, asalkan mereka memiliki kemauan dan kesiapan. Karena sejatinya, sesuatu yang “bisa” itu selalu berawal dari hal yang “biasa”. Semua bisa karena terbiasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *