Oleh : Rizky Rama Fauzyllah dan Naufal Zidan Widhatama Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, saya cukup akrab dengan satu kebiasaan yang mungkin juga dialami banyak teman sekelas: membuka ChatGPT sebelum mulai menulis laporan, atau mengandalkan Google Translate ketika menemukan istilah teknis dalam bahasa asing. Kebiasaan ini terasa wajar, bahkan efisien. Namun belakangan, saya mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih dalam: apakah teknologi yang saya gunakan setiap hari ini membantu saya menjadi lebih mahir berbahasa Indonesia, atau justru pelan-pelan mengikis kemampuan itu? Kecerdasan buatan atau yang lebih dikenal dengan istilah Artificial Intelligence (AI) sudah bukan lagi teknologi masa depan. Ia hadir nyata dalam kehidupan mahasiswa, mulai dari asisten penulisan berbasis LLM (Large Language Model) seperti ChatGPT, alat koreksi tata bahasa seperti Grammarly, hingga penerjemah otomatis seperti DeepL dan Google Translate. Di satu sisi, kehadiran alat-alat ini membuka peluang belajar yang belum pernah ada sebelumnya. Di sisi lain, cara kita menggunakannya menentukan apakah kita tumbuh atau justri stagnan. Artikel ini mencoba menelusuri hubungan antara AI dan pembelajaran Bahasa Indonesia secara jujur dan kritis tidak untuk menghakimi penggunaan teknologi, tetapi untuk memahami bagaimana kita bisa memanfaatkannya secara lebih sadar dan bertanggung jawab. Teknologi sebagai Katalis Perubahan Bahasa Bahasa Indonesia tidak pernah berhenti bergerak. Sejak masa kemerdekaan hingga sekarang, ia terus menyerap pengaruh dari luar dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Masuknya internet pada akhir 1990-an menghadirkan gelombang perubahan yang signifikan: kata-kata seperti unduh, unggah, laman, dan gawai lahir sebagai padanan resmi dari istilah teknologi asing, dan kini telah masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) secara aktif memperbarui kosakata tersebut untuk memastikan bahasa Indonesia tetap relevan di tengah arus globalisasi. Teknologi digital, khususnya media sosial dan platform pesan instan, mempercepat proses ini jauh lebih cepat dari yang bisa dibayangkan. AI masuk ke dalam ekosistem ini sebagai kekuatan yang jauh lebih besar dibanding media sosial biasa. Model bahasa besar seperti GPT-4 yang menjadi dasar ChatGPT dilatih menggunakan miliaran teks dari berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Dampaknya tidak hanya pada kosakata, tetapi juga pada bagaimana mahasiswa memahami dan memproduksi bahasa karena kini ada “pembicara buatan” yang bisa dijadikan referensi, model, atau bahkan pengganti dalam proses menulis. Peran AI dalam Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia Dalam konteks akademik, AI berperan pada beberapa lapisan pembelajaran bahasa. Yang paling terlihat adalah fungsinya sebagai scaffolding perancah belajar yang membantu mahasiswa membangun pemahaman secara bertahap. Seorang mahasiswa yang kesulitan menulis pendahuluan untuk esai, misalnya, bisa meminta ChatGPT menghasilkan satu atau dua contoh pembuka, kemudian mempelajari pola struktur kalimatnya dan menuliskan versi miliknya sendiri. Jika dilakukan dengan cara ini, proses tersebut tidak jauh berbeda dari membaca contoh tulisan di buku teks hanya lebih interaktif dan responsif. Selain itu, AI juga berperan sebagai pemberi umpan balik real-time. Alat seperti Grammarly, meskipun fokus utamanya adalah Bahasa Inggris, menggunakan model bahasa untuk mendeteksi kesalahan gramatikal, inkonsistensi gaya, dan pilihan diksi yang kurang tepat. Untuk Bahasa Indonesia, fitur koreksi otomatis di Google Docs dan Microsoft Word mulai memanfaatkan teknologi serupa. Umpan balik semacam ini berharga karena mahasiswa bisa belajar dari kesalahan secara mandiri, tanpa harus menunggu koreksi dosen. Satu fungsi lain yang sering diabaikan adalah peran AI sebagai jembatan antarbahasa. Banyak literatur ilmiah dan dokumentasi teknis yang hanya tersedia dalam Bahasa Inggris. Dengan DeepL atau Google Translate yang akurasinya terus meningkat berkat pembaruan berbasis neural network, mahasiswa dapat mengakses referensi tersebut, memahaminya, dan mengekspresikan pemahamannya kembali dalam Bahasa Indonesia. Proses ini, jika dilakukan secara aktif dan bukan sekadar menyalin hasil terjemahan, justru dapat memperkaya kosakata dan wawasan mereka. Manfaat Penggunaan AI bagi Mahasiswa Manfaat penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa bukan sesuatu yang abstrak ia bisa dirasakan dalam keseharian. Pertama, terdapat efisiensi waktu yang nyata. Mahasiswa semester dua umumnya sedang berjuang dengan banyaknya tugas dari berbagai mata kuliah sekaligus. Kemampuan AI untuk membantu proses brainstorming dan penyusunan kerangka tulisan memungkinkan mahasiswa mengalokasikan lebih banyak energi untuk hal yang lebih penting: mengembangkan argumen, melakukan riset, dan menyunting tulisan secara kritis. Kedua, AI menciptakan ruang belajar yang tidak menghakimi. Tidak semua mahasiswa merasa nyaman memperlihatkan tulisannya kepada orang lain untuk dikoreksi, terutama di tahap awal ketika kepercayaan diri belum terbentuk. Dengan berlatih menggunakan AI sebagai mitra menulis, mereka bisa bereksperimen dengan gaya bahasa, mencoba struktur kalimat baru, dan mendapat masukan tanpa rasa takut. Ini adalah bentuk pembelajaran mandiri yang justru bisa membangun fondasi yang lebih kuat sebelum berhadapan dengan evaluasi formal. Ketiga, AI memperluas akses terhadap ragam bahasa. Dengan meminta ChatGPT menghasilkan teks yang sama dalam gaya formal, semi-formal, dan informal, mahasiswa dapat secara langsung membandingkan perbedaan register bahasa sebuah kompetensi penting yang sering kali sulit dipelajari hanya dari buku teks. Tantangan dan Risiko Penggunaan AI dalam Pendidikan Di balik semua manfaat tersebut, ada sisi yang tidak boleh diabaikan. Masalah terbesar bukan pada teknologinya sendiri, melainkan pada pola penggunaan yang keliru. Yang paling mengkhawatirkan adalah ketergantungan kognitif. Kemampuan menulis berhubungan erat dengan kemampuan berpikir keduanya diasah melalui latihan yang konsisten. Ketika proses menulis terlalu sering dialihdayakan ke AI, otak tidak lagi terlatih merumuskan ide dari awal, menyusun argumen secara logis, atau memilih diksi yang tepat untuk konteks tertentu. Hasilnya bisa terlihat di semester-semester berikutnya ketika tuntutan akademik meningkat, tetapi kemampuan menulis mandiri justru stagnan. Ada pula masalah etika akademik yang sering kali berada di zona abu-abu. Banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa menyerahkan teks hasil AI tanpa atribusi yang jelas merupakan bentuk ketidakjujuran akademik. Sementara institusi pendidikan mulai menggunakan alat deteksi seperti Turnitin AI Detection, kesadaran mahasiswa tentang batas antara “dibantu AI” dan “dikerjakan AI” masih perlu ditingkatkan secara serius. Tantangan lain yang lebih halus adalah fenomena yang disebut AI hallucination kondisi ketika model bahasa menghasilkan informasi yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi faktanya salah atau tidak berdasar. ChatGPT, misalnya, pernah mengutip referensi ilmiah yang tidak pernah ada. Mahasiswa yang langsung mempercayai output AI tanpa verifikasi berisiko memasukkan informasi keliru ke dalam karya akademik mereka. Contoh Nyata Penggunaan AI oleh Mahasiswa Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk penggunaan AI oleh mahasiswa cukup beragam. Saat mengerjakan laporan praktikum, banyak yang menggunakan ChatGPT untuk menyusun kerangka pembahasan, lalu mengisi kontennya secara mandiri. Ketika membaca jurnal internasional untuk bahan referensi, DeepL sering menjadi pilihan utama karena terjemahannya lebih alami dibanding Google Translate untuk teks ilmiah. Grammarly, di sisi lain, banyak digunakan untuk menyunting abstrak atau bagian berbahasa Inggris sebelum dikumpulkan. Ada pula penggunaan yang lebih kreatif: beberapa mahasiswa memanfaatkan AI untuk membandingkan dua versi kalimat yang berbeda gaya, lalu memilih mana yang lebih sesuai dengan konteks tulisannya. Ini adalah contoh penggunaan AI yang produktif bukan untuk menggantikan proses berpikir, tetapi untuk memperkaya pilihan yang tersedia. Yang membedakan penggunaan produktif dari penggunaan kontraproduktif adalah apakah mahasiswa tetap terlibat secara aktif dalam proses pembuatan keputusan. Dampak Positif dan Negatif terhadap Kemampuan Berpikir dan Menulis Penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa ibarat pedang bermata dua. Mahasiswa yang menggunakannya sebagai alat bantu bukan pengganti berpotensi berkembang lebih cepat karena mereka mendapat eksposur terhadap pola tulisan yang baik secara konsisten. Sebaliknya, ada pola yang mulai terlihat pada mereka yang terlalu bergantung: kalimat menjadi panjang dan berputar-putar tanpa isi, pilihan kata terasa seperti terjemahan yang kaku, dan yang paling mengkhawatirkan mereka kesulitan menulis ketika AI tidak tersedia. Ada juga dampak yang lebih tidak terlihat: perubahan cara membaca. Ketika terbiasa dengan teks yang ringkas, padat, dan langsung ke inti, kemampuan membaca teks panjang dengan penalaran kompleks seperti artikel ilmiah atau karya sastra bisa menurun secara bertahap. Ini adalah konsekuensi jangka panjang dari perubahan pola konsumsi informasi yang sering luput dari perhatian. Motivasi: Menggunakan Teknologi secara Bijak dan Bertanggung Jawab Kunci untuk memanfaatkan AI secara sehat ada pada cara kita memposisikannya. AI bukan pengganti proses berpikir ia adalah alat yang memperluas kapasitas kita, seperti kalkulator dalam matematika atau compiler dalam pemrograman. Seorang programmer yang mahir tidak berhenti memahami logika algoritma hanya karena ada IDE yang bisa melengkapi kode secara otomatis. Begitu pula, mahasiswa yang cerdas tidak berhenti melatih kemampuan berpikirnya hanya karena ada AI yang bisa menuliskan esai dalam hitungan detik. Konkretnya, ada beberapa pendekatan yang bisa diterapkan: gunakan ChatGPT untuk mendapatkan gambaran awal atau alternatif sudut pandang, lalu tulis ulang seluruhnya dengan bahasa sendiri. Gunakan penerjemah otomatis untuk memahami referensi berbahasa asing, lalu ekspresikan pemahamannya tanpa menyalin terjemahan secara mentah. Gunakan alat koreksi tata bahasa bukan untuk menggantikan proses penyuntingan, melainkan untuk belajar dari setiap kesalahan yang ditandai. Sebagai calon profesional di bidang teknologi, kemampuan berkomunikasi yang kuat termasuk dalam Bahasa Indonesia adalah aset yang sering diremehkan. Dokumentasi teknis yang buruk, laporan yang tidak kohesif, dan presentasi yang membingungkan adalah masalah nyata di dunia kerja yang akarnya sering kali bukan pada pengetahuan teknis, melainkan pada kemampuan menulis yang tidak pernah diasah dengan sungguh-sungguh. AI telah mengubah lanskap pembelajaran bahasa Indonesia secara fundamental, membawa manfaat yang nyata sekaligus risiko yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Efisiensi, aksesibilitas referensi multibahasa, dan umpan balik instan adalah keunggulan yang patut dimanfaatkan. Namun, ketergantungan kognitif, ambiguitas etika akademik, dan potensi penurunan kemampuan berpikir mandiri adalah ancaman yang sama-sama nyata. Teknologi AI bukan musuh pembelajaran ia adalah cermin yang memantulkan bagaimana kita mendekati proses belajar itu sendiri. Mahasiswa yang menggunakannya dengan kesadaran penuh, kejujuran intelektual, dan komitmen untuk tetap melatih kemampuan menulis secara mandiri akan menemukan bahwa AI justru mendorong mereka berkembang lebih jauh. Sebaliknya, mereka yang hanya mencari jalan pintas akan berhadapan dengan konsekuensi ketika teknologi tidak lagi bisa dijadikan sandaran. Kemampuan berbahasa Indonesia yang baik, pada akhirnya, bukan sekadar nilai di lembar transkrip. Ia adalah cara kita berpikir, berargumen, dan menyampaikan gagasan kepada dunia dan itu adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diwakilkan oleh mesin, secanggih apa pun. Daftar Pustaka Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. https://kbbi.kemdikbud.go.id Brown, T. B., Mann, B., Ryder, N., Subbiah, M., Kaplan, J., Dhariwal, P., … & Amodei, D. (2020). Language models are few-shot learners. arXiv preprint arXiv:2005.14165. https://arxiv.org/abs/2005.14165 OpenAI. (2023). GPT-4 technical report. arXiv preprint arXiv:2303.08774. https://arxiv.org/abs/2303.08774 Rudolph, J., Tan, S., & Tan, S. (2023). ChatGPT: Bullshit spewer or the end of traditional assessments in higher education? Journal of Applied Learning and Teaching, 6(1), 342–363. https://doi.org/10.37074/jalt.2023.6.1.9 Warschauer, M. (2004). Technology and social inclusion: Rethinking the digital divide. MIT Press. Zawacki-Richter, O., Marín, V. I., Bond, M., & Gouverneur, F. (2019). Systematic review of research on artificial intelligence applications in higher education. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 16(39). https://doi.org/10.1186/s41239-019-0171-0 Post navigation Pentingnya Belajar Bahasa Indonesia yang Baik di Zaman Serba Digital Pengetahuan Manusia Berkembang Karena Kesalahan