Oleh: Yuan Dwi Prasetyo & Gading Chandra Pawukir

Selama ini, kita sering menganggap bahwa Kesehatan hanyalah urusan fisik atau seberapa banyak protein yang kita komsumsi, berapa beban yang kita angkat di gym, atau berapa jam kita tidur setiap malam. Namun, ada satu instrument yang sering luput dari perhatian. Padahal dampaknya sangat nyata terhadap kesejahteraan kita, yaitu Bahasa.

Bahasa bukan sekedar alat komunikasi untuk berintraksi dengan orang lain. Ia adalah jembatan yang menghubungkan pikiran, dan kondisi biologis tubuh kita.

1. Selft-Talk: Kekuatan Bahasa Dalam Pikiran

Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana kamu berbicara kapada dirimu sendiri?, dalam dunia psikolinguistik (ilmu yang mempelajari hubungan bahasa dan mental). Cara kita menggunakan Bahasa berdialog dengan diri sendiri (self-talk) sangat memengaruhi kesehatan mental dan fisik.

Menggunakanpilihan kata yang positif seperti ‘ayo pasti bisa” bukan “aku pasti gagal” dapat menurunkan hormol kortisol (hormone stress). Bahasa yang sehat menciptakan pola piker yang sehat, yang pada akhirnya berdampak pada ketahanan system imun tubuh kita.

2. Literasi Kesehatan: Jembatan Informasi

Salah satu tantangan besar di dunia medis adalah kendala Bahasa. Istilah teknis yang terlalu rumit sering kali membuat masyarakat awam merasa asing dengan informasi Kesehatan. Disinilah peran Bahasa yang mudah dimengerti menjadi sangat penting.

Pola hidup sehat hanya bisa tercipta jika informasi mengenai gizi, dosis obat, atau prosedur medis disampaikan dengan Bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Tanpa Bahasa yang ramah untuk semua orang, literasi kesehatan masyarakat tidak akan pernah meningkat.

3. Bahasa Sebagai Alat Pemulih

Pernahkah kamu merasa “plong” setelah menceritakan masalahmu kepada teman?, itulah kekuatan Bahasa sebagai alat atau penyaluran emosi secara ilmiah, kemampuan seseorang dalam menceritakan perasaan dan pengalamannya terbukti dapat menurunkan tingkat stress kronis.

Ketika kita mampu mengekspresikan apa yang kita rasakan melalui kata-kata baik itu melalui obrolan santai , maupun tulisan beban mental kita berkurang. Hal ini secara langsung mencegah berbagai penyakitpsikosomatis (keluhan fisik yang dipicu oleh stress atau beban pikiran) yang sering kali muncul akibat emosi yang terpendam.

Sumber & Refrensi

Pennebaker, J. W. (1997). Writing about Emotional Experiences as a Therapeutic Process. Psychological Science. Nutbeam, D. (2008). The evolving concept of health literacy. Social Science & Medicine.Frattaroli, J. (2006). Experimental disclosure and its moderators: A meta-analysis. Psychological Bulletin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *