Oleh : Zesen Randry Arzun Gulo Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah kering, tinggallah Rian, anak tunggal dari pasangan petani yang tanahnya hanya cukup untuk menanam padi guna makan sendiri. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat ayahnya pulang dengan tangan kosong saat musim kemarau, dan ibunya yang selalu menambal baju yang sudah berlubang berkali-kali. Buku tulisnya adalah bekas warisan tetangga, dan sepatu yang dipakainya terbuat dari kain sisa jahitan ibu, solnya sering lepas saat berjalan ke sekolah sejauh tiga kilometer. Meski hidup serba kekurangan, Rian punya satu tekad: ia tidak ingin orang tuanya terus-menerus menahan lapar dan menahan dingin karena tak punya uang. Saat usianya menginjak 17 tahun, Rian memutuskan untuk merantau. Ia mendengar dari tetangga bahwa di Tangerang banyak pabrik yang membutuhkan tenaga kerja. Dengan bekal sepotong baju ganti, sebungkus nasi bungkus buatan ibu, dan uang sisa hasil menabung selama setahun yang hanya cukup untuk ongkos bus, ia berpamitan. Ayahnya hanya bisa mengusap kepalanya sambil menahan air mata, sementara ibunya menyelipkan selembar kain tambalan ke dalam tas kecilnya, berpesan, “Jaga diri, Nak. Ingat, kerja keras dan kejujuran adalah harta yang tak akan hilang.” Perjalanan ke Tangerang terasa panjang dan melelahkan. Saat tiba di terminal, suasana ramai dan bising membuatnya kewalahan. Gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang padat kendaraan terasa asing baginya, jauh berbeda dengan desa yang tenang. Ia tidak punya kerabat di sana, jadi ia harus mencari tempat tinggal murah dan pekerjaan secepat mungkin. Awalnya, ia tidur di emperan toko dan makan nasi bungkus murah seharga seribu rupiah. Ia berkeliling dari satu pabrik ke pabrik lain, menanyakan apakah ada lowongan, namun sering kali ditolak karena belum punya pengalaman atau dokumen yang belum lengkap. Hingga suatu hari, ia diterima bekerja di sebuah pabrik pembuatan komponen elektronik dengan gaji yang pas-pasan. Tempat tinggalnya adalah kamar kontrakan kecil berukuran dua kali tiga meter, yang ditempati bersama tiga orang pemuda lain dari daerah berbeda. Udara panas, bising, dan sempit, tapi bagi Rian, itu sudah cukup. Ia bekerja dengan sangat rajin, datang paling pagi dan pulang paling sore. Ia tidak pernah lelah, karena setiap kali ia memegang alat kerja, ia teringat wajah orang tuanya yang penuh harap. Setiap bulan, sebagian besar gajinya dikirim ke desa, sisanya hanya cukup untuk makan seadanya dan kebutuhan sehari-hari. Selama bertahun-tahun, Rian terus belajar dan bekerja keras. Ia memperhatikan cara kerja rekan kerjanya, bertanya kepada orang yang lebih paham, dan membaca buku panduan yang ia beli dari sisa uang jajannya. Ketekunannya tidak sia-sia. Setelah lima tahun, ia diangkat menjadi kepala bagian produksi, gajinya naik berlipat ganda. Ia kemudian bisa menyewa kamar yang lebih layak, dan mulai menabung untuk membangun rumah di kampung halaman. Sekarang, Rian sudah menjadi laki-laki dewasa yang tegar. Ia pulang ke desa setahun sekali, membawa oleh-oleh dan uang untuk orang tuanya. Rumah yang dulu berdinding bambu kini sudah berubah menjadi rumah permanen yang nyaman. Saat berdiri di halaman rumah baru itu, ia sering teringat hari pertama ia melangkah ke Tangerang dengan sepatu kain dan tas lusuh. Ia sadar, kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal yang memaksanya berjuang lebih keras. Jalan panjang yang ia lalui dari desa ke Tangerang bukan hanya perpindahan tempat, tapi perjalanan mengubah nasib dengan keringat, ketekunan, dan hati yang tidak pernah lupa asal-usulnya. Post navigation Analisis Keamanan Data Pribadi dalam Penggunaan Aplikasi Digital di Kalangan Mahasiswa Seni Komunikasi Visual di Era Digital