Oleh: Siti Ulfa Dwi Putri dan Kasi, Program Studi Teknik Informatika, Universitas Pamulang Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, belajar, dan memperoleh informasi. Jika dahulu seseorang perlu membuka kamus cetak atau bertanya kepada orang lain untuk mengetahui arti suatu kata, kini informasi tersebut dapat ditemukan melalui telepon genggam dalam hitungan detik. Berbagai aplikasi juga dapat membantu pengguna menerjemahkan teks, memeriksa ejaan, dan menyusun kalimat. Perubahan ini membuat hubungan antara teknologi dan bahasa semakin erat. Bahasa menjadi sarana utama untuk memberikan perintah kepada perangkat digital, mencari informasi di internet, serta berkomunikasi melalui media sosial. Di sisi lain, teknologi juga memengaruhi kebiasaan masyarakat dalam memilih kata dan menyampaikan pendapat. Penggunaan singkatan, bahasa gaul, dan istilah asing semakin sering ditemukan dalam percakapan seharihari. Kemajuan tersebut memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan. Pengguna perlu membedakan bahasa santai yang sesuai untuk percakapan sehari-hari dengan bahasa baku yang diperlukan dalam situasi resmi, seperti penulisan tugas kuliah, surat resmi, berita, dan karya ilmiah. Selain itu, hasil tulisan yang dihasilkan oleh aplikasi kecerdasan buatan tidak selalu tepat sehingga perlu diperiksa kembali. Oleh karena itu, perkembangan teknologi perlu diikuti dengan kesadaran untuk menggunakan bahasa secara tepat. Teknologi seharusnya membantu manusia meningkatkan kemampuan berbahasa, bukan membuat penggunanya berhenti berpikir atau mengabaikan kaidah bahasa. Artikel ini membahas manfaat teknologi dalam penggunaan bahasa, tantangan yang muncul, serta upaya menjaga bahasa Indonesia dan bahasa daerah di era digital. Teknologi Mempermudah Pembelajaran Bahasa Teknologi digital dalam pembelajaran merupakan pemanfaatan perangkat, aplikasi, jaringan internet, dan sistem informasi untuk mendukung kegiatan pendidikan. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan materi, menyimpan dokumen, melakukan komunikasi akademik, mengerjakan tugas, dan mengevaluasi hasil belajar. Salah satu manfaat teknologi adalah memudahkan akses terhadap berbagai sumber belajar bahasa. Kamus digital dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring dapat digunakan untuk memeriksa makna kata, ejaan, dan bentuk kata baku. Sementara itu, aplikasi pembelajaran dan video edukasi membantu pengguna mempelajari tata bahasa melalui contoh yang beragam. Mahasiswa dapat memanfaatkan sumber-sumber tersebut ketika menulis makalah, membuat presentasi, atau memahami istilah baru. Meskipun demikian, pengguna tetap perlu memilih sumber yang tepercaya agar tidak menerima informasi yang keliru. Contoh penerapan teknologi dalam pembelajaran antara lain penggunaan laptop atau telepon pintar untuk mengakses materi perkuliahan, pemanfaatan sistem pembelajaran elektronik (e-learning) untuk mengumpulkan tugas, penggunaan konferensi video untuk perkuliahan jarak jauh, serta pencarian referensi melalui perpustakaan digital. Dalam pendidikan tinggi, teknologi digital dapat membuat proses pembelajaran lebih fleksibel. Mahasiswa tidak selalu harus berada di ruang kelas untuk mempelajari materi. Mereka dapat memanfaatkan sumber digital sesuai dengan jadwal dan kebutuhan belajar selama penggunaannya tetap sesuai dengan ketentuan perkuliahan. Namun, teknologi bukanlah tujuan utama pendidikan. Keberhasilan pembelajaran tetap dipengaruhi oleh kualitas materi, metode pengajaran, keterlibatan dosen, kedisiplinan mahasiswa, serta kemampuan memahami dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh. Kecerdasan Buatan sebagai Alat Bantu Menulis Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai banyak digunakan untuk membantu pengguna menyusun kerangka tulisan, merangkum gagasan, memperbaiki susunan kalimat, dan menerjemahkan teks. Fitur-fitur tersebut dapat membantu pengguna yang kesulitan memulai tulisan atau ingin menemukan alternatif penyampaian suatu gagasan. Meskipun demikian, AI bukanlah pengganti pemahaman dan tanggung jawab penulis. Hasil yang dihasilkan oleh aplikasi AI dapat mengandung kesalahan, kurang sesuai dengan konteks, atau memuat informasi yang belum terverifikasi. Kalimat yang tampak meyakinkan belum tentu benar, sedangkan informasi yang disajikan belum tentu didukung oleh sumber yang jelas. Oleh karena itu, pengguna perlu membaca ulang hasil tulisan, memeriksa fakta, dan membandingkan informasi dengan sumber yang tepercaya. Dalam penulisan tugas akademik maupun artikel untuk publikasi, penulis tetap bertanggung jawab atas isi akhir tulisannya. Cara yang lebih bijak dalam memanfaatkan AI adalah menuliskan gagasan utama secara mandiri, menggunakan aplikasi untuk memperoleh masukan, kemudian menyunting hasilnya berdasarkan pemahaman sendiri. Langkah ini membantu pengguna memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan menulis, berpikir kritis, dan bernalar. Bahasa di Media Sosial Perlu Disesuaikan dengan Situasi Media sosial membuat bahasa berkembang dengan cepat. Istilah baru dapat menyebar luas dalam waktu singkat, sedangkan singkatan dan ungkapan populer sering digunakan untuk menciptakan suasana akrab. Penggunaan bahasa santai merupakan bagian dari dinamika komunikasi selama tidak mengganggu pemahaman dan tetap sesuai dengan lawan bicara. Persoalan muncul ketika kebiasaan menulis secara singkat terbawa ke situasi formal. Dalam laporan, berita, surat resmi, atau karya ilmiah, penulis perlu memilih kata yang tepat, menyusun kalimat secara runtut, dan memperhatikan ejaan serta tanda baca. Bahasa yang jelas membantu pembaca memahami pesan tanpa harus menebak maksud penulis. Menjaga bahasa Indonesia bukan berarti melarang penggunaan bahasa gaul atau istilah asing. Hal yang lebih penting adalah memahami konteks penggunaannya. Masyarakat dapat menggunakan ragam santai dalam percakapan informal dan tetap menggunakan bahasa baku ketika situasi menuntut ketepatan serta kejelasan. Dengan demikian, kemampuan menyesuaikan ragam bahasa menjadi hal penting di era digital. Pengguna tidak hanya perlu memahami cara menyampaikan pesan, tetapi juga harus mampu mempertimbangkan siapa pembacanya, apa tujuan komunikasinya, dan dalam situasi apa bahasa tersebut digunakan. Teknologi Dapat Mendukung Pelestarian Bahasa Daerah Selain memengaruhi penggunaan bahasa Indonesia, teknologi juga membuka peluang untuk memperkenalkan dan melestarikan bahasa daerah. Video pembelajaran, rekaman cerita rakyat, kamus digital, dan konten media sosial dapat membantu generasi muda mengenal kosakata serta ungkapan dari daerah masing-masing. Materi digital juga berpotensi menjadi dokumentasi yang dapat dipelajari kembali oleh generasi berikutnya. Upaya pelestarian bahasa daerah perlu melibatkan penutur asli dan komunitas setempat agar makna, pelafalan, serta konteks penggunaannya tetap terjaga. Teknologi penerjemahan dan pengenalan suara juga perlu dikembangkan secara cermat karena setiap bahasa memiliki ciri dan kaidah yang tidak selalu dapat disamakan. Keberagaman bahasa merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Oleh karena itu, ruang digital sebaiknya tidak hanya didominasi oleh bahasa yang paling banyak digunakan, tetapi juga memberikan tempat bagi bahasa daerah. Dengan dukungan masyarakat, pendidik, peneliti, dan pengembang teknologi, internet dapat menjadi ruang untuk belajar sekaligus merawat keberagaman bahasa. Langkah Sederhana Menggunakan Teknologi secara Bijak Ada beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan untuk menjaga kualitas tulisan di era digital. Pertama, gunakan kamus dan sumber resmi untuk memeriksa makna kata serta ejaan. Kedua, jangan langsung mempercayai semua jawaban aplikasi; periksa kembali fakta dan sumber rujukannya. Ketiga, sesuaikan gaya bahasa dengan pembaca, tujuan, dan situasi komunikasi. Keempat, hindari menyalin hasil aplikasi tanpa memahami, memeriksa, dan mengolahnya kembali. Selain itu, kebiasaan membaca dan menulis secara mandiri perlu dipertahankan. Semakin sering seseorang berlatih menyusun gagasan, semakin terasah pula kemampuannya dalam memilih kata, membangun kalimat, dan menjelaskan pendapat. Teknologi memang dapat mempercepat proses penulisan, tetapi kualitas komunikasi tetap bergantung pada ketelitian, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab penggunanya. Penutup Perkembangan teknologi digital memberikan banyak kemudahan untuk mempelajari bahasa, menyusun tulisan, dan berkomunikasi. Kamus daring, materi pembelajaran digital, dan kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu selama pengguna tetap memeriksa informasi serta memahami hasil yang digunakan. Pada saat yang sama, masyarakat perlu membiasakan penggunaan bahasa yang sesuai dengan situasi dan memberikan ruang bagi bahasa daerah di dunia digital. Pemanfaatan teknologi secara bijak harus disertai dengan kemampuan berpikir kritis, ketelitian, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi. Menjaga bahasa bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan bahwa kemajuan teknologi berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan berbahasa dan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Dengan demikian, teknologi yang semakin canggih dapat menjadi sarana untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia sekaligus melestarikan kekayaan bahasa daerah di Indonesia. Daftar Pustaka Afaria, Z., & Sudjani, D. (2022). Pengaruh media pembelajaran berbasis permainan digital terhadap minat belajar bahasa Arab pada siswa kelas X MA Miftahul Huda. Tatsqifiy: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 3(2), 94–103. https://doi.org/10.30997/tjpba.v3i2.6235 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.). KBBI daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Diakses 22 Oktober 2026, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id Cholik, M., & Umaroh, S. T. (2023). Pemanfaatan video animasi sebagai media pembelajaran di era digital. JIPI (Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pembelajaran Informatika), 8(2), 704–709. https://doi.org/10.29100/jipi.v8i2.4121 Lubis, Z. A., Raudhah, Z., Tampubolon, T. D. B., Defan, Z., Khairani, I., Sinambela, Z. S., & Manik, V. (2026). Eksistensi bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa di era digital dan globalisasi. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 12(2), 218–232. https://doi.org/10.36989/didaktik.v12i02.14647 Pakaya, M. A., Sabata, Y. N., Rosvita, I., & Hardianti, S. (2026). Pengaruh media sosial terhadap kosakata bahasa Indonesia di kalangan generasi muda: Sebuah studi literatur. Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra), 11(1), 474–484. https://doi.org/10. https://doi.org/10.36709/bastra.v11i1.2506 Permana, B. S., Hazizah, L. A., & Herlambang, Y. T. (2024). Teknologi pendidikan: Efektivitas penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi di era digitalisasi. Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, 4(1), 19–28. https://doi.org/10.55606/khatulistiwa.v4i1.2702 Putri, A. K., & Marini, A. (2023). Peran media pembelajaran berbasis teknologi digitalisasi dalam meningkatkan literasi dan minat belajar pada mata pelajaran IPS di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar dan Sosial Humaniora, 3(2), 181–190. Sipaayung, J., & Munawaroh, M. (2025). Peran teknologi smartphone sebagai media pembelajaran interaktif bagi mahasiswa di era digital. Trending: Jurnal Manajemen dan Ekonomi, 3(1). https://doi.org/10.30640/trending.v3i1.3662 Post navigation Peran Bahasa Indonesia dalam Membangun Etika Penggunaan Kecerdasan Buatan Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila di Kalangan Mahasiswa Teknik Informatika SOPAN SAJA BELUM CUKUP: ETIKA BERBAHASA DALAM BELANJA ONLINE